Sejarah Saya dengan PIBO UGIV

Assalamualaikum.
Selamat gini hari, salam sejahtera buat kita semua.

Setelah mengenang touring masal lalu, akhirnya saya mau coba tulis tentang pulsar, motor pertama saya yang dibeli sendiri… Apa patungan ya? Lupa. 😛

Awal kisah ketika itu adalah tahun pertama saya ke-terima kerja di sebuah kantor di daerah Jakarta. Kalo enggak salah baru 5 atau 6 bulan, dan kebutuhan kendaraan sudah cukup mendesak. Selain ke kantor, rencananya kendaraan juga akan dipakai untuk bolak-balik Indramayu. Waktu itu sekaligus masa perkenala saya dengan istri (Lamaran dan nikah di tahun yang sama).

Gaji cuma 1,3 Jt, dapet apa ya?

Punya saya yang kiri, bukan yang kanan…

Begitu kalimat yang terpikir saat milih-milih kendaraan roda dua. Rasa-rasanya kok enggak bakalan dapet motor bagus dan irit dengan harga itu. Tiger saja menyentuh 20jtan lebih dulu. Saya lupa bagaimana ceritanya, akhirnya saya kenalan dengan Bajaj Pulsar 180 UG IV, yang biasa disebut PIBO UGIV. Waktu itu sudah enggak ada pertimbangan lain selain harganya yang murah. Sparepart waktu itu berharap dengan janji sales yang bilang ‘spare part kami sediakan kok pak, pasti ada di sini’ begitu kata mereka. Testride? Mana sempat, mepet waktu perkenalan dengan orang tua, lamaran, kemudian nikah.

Kebetulan yang waktu itu masih jadi calon istri hadir di Jakarta, jadi sekalian lihat-lihat motor di sana. Karena kami sudah berencana untuk tidak menutup-nutupi penghasilan kami dan saling berbagi susah ataupun senang, saya konsultasikan kenyamanan berboncengan dan cicilan dengan dia. Waktu itu kami belum sanggup meminang yang 220 dan yang 135 menurut istri terlalu kecil untuk saya. Akhirnya kami ambil jalan tengahnya, PIBO UGIV jadi pilihan kami.

Performance

Top Speed

Kecepatan tertinggi yang pernah saya catatkan adalah 117 km/jam di jalur balongan, Indramayu. Jalurnya tidak terlalu lebar, tapi waktu itu aspalnya masih cukup halus. Sekitar pukul 5 atau 6 pagi waktu itu, kabut masih tebal, matahari baru mengintip dari cakrawala waktu kecepatan paling tinggi itu di raih. Segitu lambat? Ya, gak bisa dibilang cepat, tapi juga gak terlalu lambat sih menurut saya. Perbedaan kecepatan GPS dan speedo tidak terlalu besar, jadi kira-kira kecepatn GPS saat itu sekitar 107-112 km/jam. Beban yang dibawa PIBO waktu itu, saya dan istri saya, ditambah barang bawaan berupa pakaian untuk kira-kira 4 hari – 1 minggu. Kondisi motor standar tanpa ada ubahan.

Dengan kondisi seperti itu, waktu itu masih cukup kalau hanya mengikuti Honda Tiger atau ngintilin kumpulan V-ixion. Kesimpulan saya, top speed pulsar 180 UG4 dengan beban berat, cukup. Power 17 PS-nya cukup bisa diandalkan untuk menggapai kecepatan itu walau diraih dengan straight yang agak panjang.

Akselerasi

Akselerasi juga gak jauh beda. Gak bisa dibilang bagus, tapi juga gak bisa di bilang jelek. Perpaduan tenaga dan bobot PIBO UGIV cukup untuk saya bilang ‘eh, udah 80.’ Melewati jalur naik turun gunung melintas Bumiayu bukan masalah buat pulsar walaupun desain mesinya menurut perasaan saya bagus di putaran menengah. Dengan Stroke 56,4 mm, putaran bawahnya cukup, dan nendang di putaran menengah. Sayangnya begitu RPM mesin sampai 7500 tenaga mulai terasa kurang, sementara power puncak sesuai spek baru dicapai pada 8500.

Manuver

Menurut Saya, pulsar ini termasuk motor dengan jarak sumbu roda yang panjang. Dengan jarak sumbu roda yang panjang, ban lebar dan jok penumpang yang cukup lebar ditambah putaran setang yang sangat sempit, PIBO UGIV punya kelemahan ketika melakukan manuver, khususnya pada kecepatan rendah atau sangat rendah. Radius putar yang kecil membuat saya kesulitan waktu berada di tengah kemacetan. Walaupun, ini sama sekali tidak mengurangi kesenangan berkendaraan. Pada kecepatan tinggi panjangnya jarak sumbu roda ini malah menjadi kelebihan, tidak ada gejalan tertiup angin (mungkin karena berat motor juga).

Kenyamanan

Istri kecapean. Lokasi: Ciasem

Bintang lima untuk yang ini. Getaran mesin yang diredam dengan balanser dan sasis double cradle sukses meredam getaran pada kecepatan rendah atau-pun tinggi. Masih ada sedikit getaran yang terasa di tangan, tapi hanya jika lebih dari 80km/jam, tapi sudah cukup nyaman dibanding kendaraan lain sejenis di kelas harga yang sama… eh, ga ada ya? 😀 Posisi berkendara cukup nyaman dengan ergonomi yang cukup baik. Saya tidak akan berbicara tentang segitiga ergonomi, karena menurut saya segitiga ergonomi itu hanya berlaku jika diukur dengan suatu ukuran tertentu dengan satuan tertentu. Misalnya diukur dengan jangkauan sekian cm, panjang lutut dan panjang kaki ditambah tinggi badan, baru bisa merasakan ergonominya seperti apa.

Tidak terlalu menunduk untuk ukuran badan saya, juga tidak terlalu tegak dan menyiksa tulang ekor. Pas, sebuah motor sport yang di desain untuk jarak jauh. Sport touring sangat tepat mendeskripsikan ergonomi motor ini.

Kelemahan

Sparepart. Ya, cuma itu kelemahanya, spare partnya susah dicari. Ada satu bengkel yang spare part-nya selalu tersedia, tapi harganya agak diluar dugaan. Bahkan saya lebih pilih ganti brand dari pada harus ke bengkel itu dengan harga yang tidak murah. Udah jauh mahal lagi.

Kesimpulan

Motor ini motor yang bagus, motor yang pas untuk yang suka touring on road (bukan off road). Motor jalanan jarak jauh yang paling tidak menyiksa badan. Berat… ya namanya juga motor, berat lah. Motor itu bukan untuk di angkat, jadi ya berat lah 😀 tapi tenaganya cukup untuk nendang bodinya yang berat itu.

Kelasnya? Ini bukan kelas naked street atau street bike. Ini kelas long ranger, suatu kelas sport bike yang sampai sekarang belum ada motor lain yang bisa menggantikanya. Buat saya Honda Tiger bukan lawan yang seimbang kalau spare part tidak dimasukan sebagai dasar pemilihan.

Bahkan ketika saya ganti GSXR150 pun, masih ingin punya ergonomi Pulsar, Mesin GSXR150 dan komunitas sebaik Pulsarian.

Sekian dulu, mudah-mudahan saya bisa meneruskan tulisan saya lain waktu.

Wassalamualaikum.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *