200km Review Suzuki GSXR150

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selamat gini hari. Salam sejahtera untuk kita semua.

Semoga kita semua dalam lindungan Tuhan YME.

Judulnya sih 200km Review, tapi yang saya pakai mungkin cuma 100km, sisanya sodara dan teman-teman yang coba. Tapi 80km dalam sehari itu cuk
up untuk review harian sekaligus touring jarak pendek :D.

Langsung aja ya, keluar dari pengasinan, Bogor, jalan rata nan jarang kendaraan. Di situ bisa saya tarik gas sampai 80km/jam. Setelah sekian lama pake metik yang 80km/jam itu jarum speedonya enggak sampe-sampe, sekarang akhirnya balik lagi ke motor yang, loh, udah 80km/jam? Kok cepet ya? 😀 Maklum, waktu pake Bajaj Pulsar 180 DTSi UG4 aja cukup cepet kok nyentuh 80, apa lagi ini yang di kecepatan segitu masih cukup powernya buat naik 40km/jam lagi, bahkan lebih. Tapi saya bukan yang suka ngebut-ngebut di tempat ramai, jadi ya di jalan utama kecepatan maksimal saya patok di 100km/jam itu pun kalo kosong.

Pertigaan pertama belok kanan arah gaplek masih kosong, lanjut tarik gas! Agak padet, jadi saya enggak PD buat sampai 100km/jam, kecepatan saya patok 80an karena masih baru pegang motor sport.

Sensasinya?


Rem Depan
Menyenangkan! Naik motor sport ternyata menyenangkan. Karena ergonomi yang nunduk itu, tendangan motor waktu akselerasi enggak nendang kepala ke belakang (mungkin istilahnya njengat ya?). Curcol dikit, dulu waktu pake Honda Megapro rasanya akselerasi lebih bagus dari pada Bajaj Pulsar 180, tapi selidik punya selidik panjang dimensi motor dan ergonomi juga mempengaruhi efek inersia ketika gas di tarik dan badan seperti terlempar ke belakang. Pusat gravitasi juga mempengaruhi. Nah,

motor sport karena di desain agar pusat gravitasi di bawah dan berat motor depan dan belakang relatif seimbang ketika dikendarai, efek dorongan ke belakang ini jadi berkurang. Kita jadi lebih konsentrasi

untuk ngurut gas dan fokus ke jalan.

Pengereman

Ini yang jempolan. Entah kenapa Suzuki mempercayakan bagian pengereman ini pada dua produsen berbeda. Nissin untuk roda belakang dan Brembo Bybre untuk roda depan. Dan entah kenapa juga hasilnya sangat luar biasa. Pengereman depan khas Bybre yang dulu saya rasakan di Pulsar 180 kembali hadir di sini. Dengan mudah saya bisa merasakan tenaga dari tuas mengalir halus ke kaliper yang mengapit cakram untuk mengurangi kecepatan. Baik perlahan ataupun Panic Break, saya seperti bisa merasakan kapan rem akan mengunci dan bertindak mengurangi cengkraman ketika rem akan mengunci. Hal ini agak bereda waktu saya naik adiknya dulu, dengan diameter cakram yang identik namun kaliper yang berbeda, adik satu mesin itu pengeremanya terasas lebih mudah mengunci, bahkan ketika saya pikir ini belum akan mengunci, atau mungkin juga karena bobotnya yang 30kg lebih ringan, ya.

Sistem pengereman belakang juga saya rasa pas. Cengkramanya cukup baik dan tidak mudah terkunci. Selama perjalanan saya lebih percaya diri berkecapatan tinggi dengan produk Suzuki ini. Keren! Benar-benar ‘Ready to Dominate’!

Getaran

Nominal. Getaran mesin paling sedikit, baik di low RPM ataupun di Rev tinggi. Ada getaran di bagian belakang, tapi saya masih belum tau dari mana, kemungkinan besar sih rantai. Mungkin nunggu Sinnob produksi belt untuk GSXR150 biar getaran ini juga ikut hilang. Oh iya, ada sensasi getaran menyamping yang baru saya temui di sepeda motor. Di RPM rendah, Bodi motor sepert bergetar kiri ke kanan di bagian depan. Saya juga belum tau, ini sementara atau akan selalu seperti ini. Minim dan tidak mengganggu, cuma agak bingung aja melihat bodi bergetar ke samping waktu melibas macet.

Buruknya

Pegel

Yup, pegel juga naik motor ini. Terutama selepasa gaplek dan menuju Ciputat sampai Pasar Jumat. Macet bikin ergonomi sport ini jadi pedang bermata dua. Pegel ini terasa terutama di bagian pergelangan tangan karena harus menahan badan waktu kaki turun ke aspal. Selama kaki masih di dudukanya, paha mengapit di tangki, badan ditopang otot perut rasanya masih nyaman. Tapi untuk riding 2 jam masih cukup oke. Pegelnya beda sama pegelnya naik skuter metik atau bebek.

Panas

Panasnya lebih panas dari pulsar. Tapi enaknya bukan bagian kaki yang panas. Bagian paha terasa panas karena ventilasi dari radiator yang ditiup kipas ke belakang itu langsung ke arah paha. 10 menit setelah lancar panasnya juga hilang, tapi kalo ketemu macet 10 menit kemudian panas lagi. Menurut Saya tentunya panas ini tidak bisa di lewatkan ke mana-mana lagi selain lewat ventilasi itu. Ini karena desain GSXR150 yang kompak dan bertenaga, jadi by design memang panas di bagian kaki, kecuali Suzuki memberikan ventilasi lain, yang artinya merubah struktur GSXR150 yang sekarang.

Panas ini bukan karena mesinya yang besar menurut saya, karena ada beberapa orang yang berpendapat seperti itu. Panas ini karena kompresi mesinya yang mencapai 11. Mesin yang kompresinya di bawah 9 tentunya akan lebih adem dan enggak perlu pendingin tambahan seperti GSXR-150 yang pendinginya gede banget! Misalnya Pulsar 180 yang masih pake pendingin udara, atau Tiger 2000 yang kapasitas mesinya mencapai 200cc, tapi cukup pakai pendingin udara.

Kesimpulan

Worth! Pegelnya itu cukup untuk mendapatkan kesenangan berkendaraan buat saya. Tapi ya setiap orang kan punya opini yang berbeda, jadi silahkan saja kalau yang enggak suka sport, silahkan coba yang versi street-nya. Ada tambahan lokasi pegel di leher belakang sih, tapi kayaknya itu karena saya pake helm bawaan Vario 110 yang ada visor-nya di depan. Bagian memanjang yang seperti topi itu sering menghalangi pandangan, jadi saya harus menarik kepala lebih keatas. Itu juga saya pakai karena saya pikir helm bawaan GSX juga sama dengan Vario, cuma yang bawaan GSX sedikit lebih kekecilan dibandingkan Vario. Ini masukan juga untuk SIM, sebelum produksi motor dengan ergonomi seperti ini, sediakan dulu helm yang sesuai sebagai pendampingnya.

Untuk Touring jarak jauh, akan saya coba nanti sekitar akhir April. Kita uji GSXR150 dengan 800km per minggu 😄

Mungkin itu dulu, mudah-mudahan kita bisa bahas lebih panjang lain kali.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Kaliper belakang Nissin

Selang rem kaliper depan Brembo (Bybre)

Kaliper depan tanpa brand

Share This:

2 thoughts on “200km Review Suzuki GSXR150

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *