Mobil Listrik Pemegang Lap Record Nurburgring

Lagi browsing-browsing tentang kendaraan listrik, eh tiba-tiba muncul nama NIO EP9. Nah, ternyata mobil listrik ini pemegang lap record di Nurburgring. Maksunya apa? Ya seperti yang tertulis, artinya mobil listrik ini adalah mobil yang tercepat di nurburgring, dia lebih cepat dari Lamborgini Huracan Performante, Porche 918 Spyder, Nissan GT-R Nismo, Mercedes AMG GT-R, atau bahkan Lexus LFA Nurburgring Package. How can they do that?

Jadi, si NIO EP9 ini untuk menjadi yang tercepat di Nurburgring dibelaki dengan mesin listrik 250kw… Yup 250 kW… Maksudnya 250 kW di masing-masing roda. Artinya ada 1MW (Mega Watt) atau setara 1000 kW, modyar gak tuh 1000 kW. Dengan motor di empat roda, artinya NIO EP-9 dapat mengendalikan ke roda mana tenaga yang disalurkan lebih besar yang mana yang dikurangi, sehingga mendukung pengendalian yang lebih baik. Bahkan di saat tikungan komputer memperhitungkan roda mana perlu tenaga lebih mana yang kurang, ckckck, berapa perhitungan perdetik, ya?

Sedikit informasi tentang sirkuit Nurburgring, sirkuit ini dibagi dua yaitu lingkar utara dan lingkar selatan. Yang sekarang digunakan adalah lingkar utara, dan Nio EP-9 mencatatkan rekor kecepatan sirkuit 1 kali putaran 6 menit 45,90 detik. Sirkuit ini ada di Jerman dengan panjang lintasan lebih dari 20 km. Tampaknya menaklukan sirkuit ini adalah mimpi dari mobil sport produksi masal, mengingat dulu waktu Lexus belajar bikin mobil sport mereka berusaha untuk menaklukan rekor Nurburgring dan berhasil. Entah sudah berapa lama, ya tapi sekarang Lexus ada di bawah NIO EP-9.

Baterai dari EP-9, walaupun tidak secara jelas disebutkan berapa kWh, tapi katanya bisa menempuh jarak 427 km dan dapat diisi ulang hanya dalam 45 menit serta dapat diganti dengan waktu 8 menit. Wiih, kalo punya baterai cadangan, cukup 8 menit bisa nambah jarak 427 km lagi sementara baterai satunya di charge. Bukan cuma mesin, tapi EP-9 juga diberkati suspensi aktif, termauk pengendalian ketinggian ketika dikendarai yang melakukan perhitungan sebanyak 200 kali setiap detik.

Kesuksesan mobil sport elektrik ini juga terutama karena dibangun oleh NIO yang sudah punya pengalaman sebelumnya di dunia balap. Bagi pecinta balapan yang juga cinta lingkungan kayak saya, pasti sudah tidak asing dengan NextEV. NextEV adalah tim yang ikut di Formula E sejak tahun 2014 dengan pembalapnya Nelson Piquet Jr. Nah, belakangan NextEV ini berubah menjadi Nio Formula E Team, yang hasil pengembanganya di trek balap konon dijadikan kendaraan produksi yang dapat dinikmati orang yang beruntung (diproduksi dengan jumlah terbatas dengan harga 1 jt dolar kalo ga salah).

Menggunakan serat karbon, sasis dan eksteriornya dibangun berdasarkan regulasi purwarupa Le Mans. Bobot karbon fibernya total 364 kg, ditambah bobot baterai yang 635 kg dan bobot lainya, total berat mobil EP-9 ini sekitar 1.735 kg. Perpaduan antara bobot yang segitu dan motor listrik 1 MW, percepatan (akselerasi) dari 0 sampai 100 kpj ada di angka 2,7 detik.

Seperti mobil balap Formula 1, EP-9 dibekali dengan sayap belakang yang dapat disetel dengan 3 setelan. Tertutup, yaitu spoiler atau sayap belakang atau rearwing ini terlipat ke dalam sehingga tidak menghasilkan downforce (gaya tekan ke bawah). Low-drag atau lemah tahanan udara, ini memberikan drag/tahanan udara yang lebih kecil, tentunya gaya tekan kebawah juga lebih kecil, tapi ‘ada.’ Yang terahir adalah high downforce, yang katanya dapat menghasilkan gaya 24 ribu newton pada kecepatan 240 km/jam, (mirip formula 1) yang memungkinkan EP-9 menikung dengan gaya 3G.

Di Indonesia kita punya mobil listrik Selo dan Tucuxi (yang saya suka desain-nya). Tinggal terus diujicobakan dan di adjust perangkat lunaknya biar bisa menyaingi mobil sport 3000 cc lain, saya rasa ‘ada’ aja yang beli kok. Buat terbatas dengan 200 unit, kalo laku semua tinggal di desain-kan yang lebih ‘mass production friendly.’ Ya, seperti Tesla itu, bikin Roadster, kemudian dari pengalaman yang ada bikin model S (mobil mewah yang lebih umum) baru terakhir bikin model 3 yang lebih murah, siap produksi masal, punya pabrik sendiri. Oh iya, jangan lupa kembangkan chargernya juga. Kalo pemerintah dirasa lama bikin charger 50kW DC charging, ya bikinkan kita aja. Socketnya, pilih CHaDeMo atau SAE J1772, atau bikin sendiri yang eksklusif, tapi tetap sediakan port SAEJ1772, karena socket ini banyak dipakai mobil listrik lain. Jadi nanti kalo pake socket Selo sendiri dapet diskon (hanya bayar biaya listrik), kalo pake yang lain dikenakan biaya peminjaman perangkat pengisian yang besaranya tergantung pengisian dayanya. Sambil jualan listrik, kan? ­čśÇ

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *