Bikin Startup Motor Listrik Yuk! Bagian-1

Judulnya kesanya ngajak, tapi enggak punya modal 😛

Tapi intinya sih buat kalian yang bermodal, buat kalian yang punya duid, silahkan ini ada suatu pasar baru di dunia yang kemungkinan akan segera masuk ke Indonesia. Kenapa enggak jadi tuan rumah di negeri sendiri? Kendaraan listrik buatan Indonesia untuk pasar Indonesia, gimana? Di Norwegia selama 8 tahun mobil listriknya naik 10.000% atau 100 kali lipat. Norway ini konon 98% tenaga listriknya dihasilkan dari tenaga air. Wah, kalo populasi mobil listriknya 90% berarti ini negara tidak menyumbang polusi karbon ke dunia… Canggih! Buat kalian yang pengen tapi bingung teknologi-nya, itu banyak mahasiswa-mahasiswa siap lulus yang skripsi-nya tentang motor listrik. Ada juga yang S2 atau S3 mungkin. Tinggal di rekrut, di beli skripsinya, atau kerjasama dengan universitasnya, asal mau gampang lah.

Pelopor produsen kendaraan listrik yang nyentrik yang banyak di rujuk sama banyak orang ini tidak lain tidak bukan adalah Tesla. Walaupun perusahaanya sampai saat ini belum keluar dari krisis keuangan, tapi saya masih punya pegangan, kalo mau bikin mobil, ya bikinlah ‘kaya Tesla,’ karena mereka keren :D. Gimana enggak keren? Satu-satunya produsen mobil yang diantriin orang di depan ‘toko’-nya buat nyetorin duid, padahal baru bisa dapet paling cepet 2 tahun lagi (misalnya). Tingkat suksesnya melengketkan konsumen udah kaya Apple, kan? Nah, buat yang bikin startup, paling enggak mulailah mencontoh Tesla ini.

Spek

Spesifikasi kendaraan listrik untuk roda 4 sudah punya rujukan, ya Tesla itu. Tapi untuk roda dua, belum ada yang sesukses tesla (Punya beberapa model dan sudah jual ribuan unit). Paling enggak kalo roda dua ya yang bersaing dengan roda dua mesin bakar (internal combustion). Kalo di IC ada mesin paling kecil di Indonesia 9kW, ya minimal motor listrik kira-kira 5-6 kW lah (karena langsung deliver ke roda, enggak banyak tenaga yang di korting), baru bisa dibilang motor yang bersaing dengan motor bensin. Jangan lupa, satu kali isi bisa tempuh jarak diatas 100 km donk, masa tiap sebentar isi lagi? Dan tentunya, jangan nanggung!

Waktu baru lahir Tesla punya Roadster, mobil hobi isi dua orang berbasis Lotus Elise (kalo enggak salah). Dia bikin itu sebagai technology demonstrator, intinya sih ngasih tau dunia kalo mobil listrik bisa lho dibikinin sport dengan jarak tempuh 300 km. Dari situ, enggak masalah kok bikin motor purwarupa sebagai teknologi demonstrator yang nantinya dijual agak mahal dan terbatas. Kalo perlu dikasih nomor urut 1-200 (kalo mau bikin 200 unit), jadi nanti di bagian rangka atau bodinya dikasih nomor 001 (untuk yang nomor 1) dan seterusnya. Jadi ada unsur eksklusifitas yang enggak ada di kendaraan produksi lain.

Dalam imajinasi saya sih, pasar yang eksklusif tapi enggak terlalu tinggi harganya pasti kelas 250 cc kan kalo di motor IC? Di kelas ini powernya antara 21-34 hp dan yang cukup bagus pasarnya yang sport firing. Bikin lah itu sebagai technology demonstrator dengan power 21-34 hp dengan jarak tempuh antara 100-200 km (wah ini lumayan susah :D). Tapi tunggu, Mugen Shinden pemenang TT Zero (salah satu kelas Isle of Man TT) aja bisa kok rata-rata kecepatan 188km/jam dengan jarak 60 km. Kalo di turunin aja kecepatan jadi 90km/jam, jaraknya bisa 120km. Lha kalo di turunin lagi kecepatan rata-ratanya bisa lebih jauh lagi, donk? Bisa kan berarti? Bikin yang 25 kw?

Harga

Nah, ini yang penting, tapi biasanya mulai ngantuk kan kalo ngomongin angka? Ya, lewat aja lah, kalo enggka nanti yang di bold aja yang dilihat, ya. Jadi intinya ini setelah coba-coba hitung-hitung, ternyata yang paling mahal dari motor listrik adalah baterainya. Baterainya itu kalo $2 per 1 cell dengan 1 cell 3,7 Volt 3Ah (3000 mAh), setiap motor butuh 939 baterai untuk mencapai daya tampung 10 kWh. Total harganya 25 juta atau sekitar 2,5 juta setiap 1 kWh, nah ada tuh motor listrik lokal 5kWh, berarti baterainya aja kalo pake skema ini (which is bisa jadi lebih mahal) harga baterainya 12,5 jt-an.

Yang mempengaruhi harga diantaranya Baterai, motor listrik, Frame (termasuk ban dan rim), dan Elektronik. Nah, kebetulan enggak tahu nih harga yang lain berapa, tapi untuk baterai aja udah 25 juta. Setelah di hitung-hitung perkiraan harga sekitar 52,6 jutaan. Margin keuntungan 20% harga jual Rp 63,2 juta. Ditambah biaya pajak (yang harusnya pemerintah bisa korting pajak karena motor ini ramah lingkungan) total harganya 70,7 juta. Lebih mahal? Tentu. Tapi 25kw motor listrik atau setara 33 hp ini disalurkan langsung ke ban lho, selisihnya pasti dikit banget antara dyno dan spek.

Dengan harga segitu, kalo biaya perakitan pertahun 2 milyar dengan produksi 400 unit per bulan, ada selisih untung 1,6 milyar perbulan (kecil ya T_T) yang nanti bisa ditabung buat bikin next mass production. Tapi kalo ini mau dijadiin mass production dengan 500 unti perbulan, rasanya cukup menguntungkan dalam jangka panjang. Jangan lupa sisain buat RND perangkat lunak, software update konon bisa bikin baterai lebih hemat 20% kalau ‘pas.’

Infrastruktur

Nah, ini yang juga sangat penting. Infrastruktur ini perlu dipertimbangkan. Bingung kan kalo mau charge tapi listrik rumah enggak kuat, tempat charging jauh, bahkan enggak sampe sisa jaraknya. Oh iya, jangan-jangan pemerintah mau nyatuin listrik non-subsidi gara-gara ini ya? yang 900VA, 1300VA, 2200VA, 3300VA disatukan jadi 4400VA, artinya bisa charge kendaraan listrik di rumah. Kalo menurut spek yang saya pakai untuk motor listrik saya, artinya bisa di isi daya selama 5 jam (kalo daya pengisian 2000VA). Wah, selesai 1 masalah karena PLN, makasih PLN.

Berikutnya, infrastruktur pengisian listrik umum. Ini sangat penting, soalnya PLN ngasih solusi-nya pake SPLU 5kVA dengan colokan standar, padahal kendaraan listrik akan lebih cepat di isi kalau menggunakan pengisian DC, sementara menggunakan SPLU yang ada sekarang perlu adaptor untuk mengubah arus AC ke DC baru dimasukan ke dalam baterai. Ada juga sih yang namanya AC Fast Charging, cukup lah kalo untuk motor, tapi tetep aja enggak akan bisa kalau pakai infrastruktur PLN yang sekarang.

Tapi… Saya punya proposal lain untuk pengadaan listrik untuk kendaraan ini. Seperti di Eropa, Shell mulai membuka pombensinya untuk pengisian listrik, ada baiknya pertamina yang menjual listrik langsung ke masyarakat. PLN cukup memproduksinya, soalnya kalo enggak gitu boros tempat/lokasi. PLN harus cari tempat lagi untuk bangung SPLU khusus kendaraan bermotor. Dengan kemampuan DC Fast Charging, 0-80% baterai kendaraan dalam 20 menit, artinya SPLU yang digabung dengan SPBU akan cukup. Kita berhenti 20 menit untuk beli roti, istirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan, cukup kan? Kalo sampe rumah kendaraan di charge di rumah. Jadi hanya perjalanan jauh aja yang memerlukan pengisian listrik di tengah-tengah. Kalo kerja atau sekedar main di dalam kota ke rumah teman, cukup charge di rumah, numpang charge di rumah temen, terus pulang lagi.

Shell Recharge, pengisian baterai kendaraan dengan 3 port berbeda yang banyak digunakan di Eropa, Chademo dan CCS DC Fast charging, serta 43kw AC Fast charging.

Ditambah lagi lokasi-lokasi parkir juga mulai ditanami tempat pengisian listrik umum di pinggir jalan atau tempat parkir. Dengan begitu populasi kendaraan listrik, terutama motor, pasti akan bertambah.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *