Moto-e Energica Ego, Gimana Speknya?

Ada kabar gembira untuk kita semua! Sekarang kulit manggis ada ekstraknya. Halah.

Kabar gembira dari Dorna, katanya mereka mau bikin Moto-e, yaitu kelas elektrik dari balapan motor prototype. Nah, di kelas ini ditunjuk Energica, sebuah perusahaan Italia pembuat motor listrik. Basis desain dari motor yang nanti balapan di sirkuit adalah Energica Ego. Lomba cepet-cepetan roda dua dengan mesin tanpa polusi, believe in humanity restored! Setidaknya kan mesin motornya dulu tanpa molusi, masalah pembangkitan listriknya juga nanti bisa pakai yang renewable juga, kan.

Energica Ego. Gambar diambil dari www.energicamotor.com Link gambar di sini

Oke, langsung saja, gimana sih speknya? Selama ini kan kalo kita baca motor listrik buatan lokal atau dirakit di sini atau dibuat untuk market Indonesia powernya seadanya banget, ya… Ada yang cuma 600 watt (ini ga sampe 1kw) ada yang 0,98 yang paling bagus se bagus-bagusnya yang baru mau dipasarin di Indonesia palingan Gesits 5KW rated, eh kenapa ga beli gesits aja ya? Xixixi… Kecuali yang impor dan harganya ratusan juta ya beda lagi itu mah.

Speknya seperti berikut:

Tangsel-Patrol 1 kali charge!

Hanya ilustrasi yang bisa ditempuh dengan 2 kali baterai 80%

Menggunakan motor listrik AC dengan magnet permanen, power puncaknya 100Kw dari 4900 rpm – 10500 rpm dengan torsi 195 Nm dari 0-4700 rpm. Artinya power akan terus datar sejak 4900 rpm dan torsi baru mulai turun dari 4700 rpm. Mak nyus kan putaran bawahnya. Dengan 100Kw power mesin, Energica Ego yang dipasangkan dengan baterai 11,7 kWh dapat menempuh jarak paling jauh 190 km dengan kecepatan rata-rata 60 kpj, 150 km dengan 80kpj dan 100 km dengan 100kpj. 11,7 kWh itu bisa nyuci baju 11 kali sambil nyetrika 11 jam. Tapi 11,7 kWh itu cuma setara 1,3 liter bensin. Harganya kalo dalam rupiah 17.550 setara 3 liter premium kurang. Dari perbandingan harganya, setara 33 kmpl dengan power 100kw! Keren.

Jarak tempuh satu kali charge sudah cukup jauh, masalahnya berapa lama di charge sampe cukup untuk melanjutkan 100km perjalanan lagi? Jawabanya adalah 30 menit dengan mode 4 DC Fast Charge, katanya dengan model pengisian CCS (Combined Charging System) yang diambil dari SAE J1772. Walaupun masih kalah lah sama Tesla’s Super Charger, tapi ini cukup cepet untuk 11,7 kWh. Kalo di charge di rumah (rumah di luar negeri) katanya cukup 3,5 jam, yang artinya sekitar 3000 VA. Nah kalo pertamina jadi naikin daya rumah non subsidi jadi 5000VA pas dah tuh, bisa buat charge Energica Ego.

SAE J1772 CCS Gambar diambil dari sae.org

Dengan kemapuan seperti itu, artinya Tangsel-Patrol cukup 1 kali charge dengan kecepatan 100km/jam, belum termasuk regenerative breaking dan kecepetan lebih lambat karena kena macet. Paling enggak setelah lingkar luar karawang ngecharge sekali lah :D. Toh kalo enggak ngecharge, di sekitar situ juga harus istirahat minimal 30 menit. Setelah 80%, caw lagi, sampe lah di Patrol, Indramayu.

Life cycle baterai yang katanya bisa 1200 pada kapasitas 80% berarti jarak tempuh sebelum ganti baterai (kalo mau tetap sempurna) sekitar 1.200.000 km. Meh, 1 juta kilometer! Toyota Limo 5 tahun aja baru 200ribu-an km.

Spek Balap

Dilengkapi dengan alumunium cast wheel depan dan belakang dengan ukuran 3,5 in x 17 in untuk depan dan 5,5 in x 17 in untuk belakang. Roda ini dibalut ban Pirelli Diablo Rosso II dengan ukuran 120/70 untuk depan dan 180/55 belakangnya. Frame tubular trelisnya yang warna merah makin ‘hot’ kalo di-sawang dari samping. Swing-arm berbahan alumunium dengan suspensi yang menyokong bagian belakang Bitubo yang dapat di-setel rebound-nya. Untuk suspensi depan juga dapat di setela rebound-nya dengan diameter suspensi 43mm upside-down (kalo enggak salah).

Untuk sistem pengereman, Energica Ego menggunakan rem depan Brembo dengan double floating discs 330mm dengan 4 piston radial. Bagian belakangnya juga menggunakan Brembo single disc dengan cakram 240 mm 2 piston. Keduanya dilengkapi dengan ABS dari Bosch.

Pengendalian Sempurna

Energica Ego menggunakan komputer khusus untuk mengendalikan seluruh komponen elektrik-nya, yang mereka sebut sebagai Vehicle Control Unit. Perangkat ini mengimplementasikan ‘multi-map adaptive energy and power management algorithm’ yang bikin pengendalian dapat disesuaikan. Saat dikemudikan, sistem akan memonitor dan menyesukan kekuatan motor 100 kali per detik. Sistemnya juga mengendalikan regenerative engine braking, yaitu mengambil energi perlambatan motor untuk disimpan kembali di baterai dan digunakan kemudian. Regenerative braking ini dapat di setela, apakah sangat agresif atau bahkan di nonaktifkan, yang tentunya agar aman dikombinasikan dengan unit ABS-nya.

Dashboard-nya menggunakan 4,3 inci WQVGA 480×272 TFT Color Display dengan internal memori untuk datalogging, GPS reciever terintegrasi, dan komunikasi bluetooth. Keren yo? Motor juga dilengkapi dengan koneksi jarak jauh menggunakan LTE/UMTS/GPRS module, sms, TCP/IP, FTP, SOCKET, dan HTTP, tapi saya masih belum tahu ini gimana pengoperasianya dan buat apa juga komunikasi ini.

keren tampilan dashboardnya. Gambar diambil dari insideevs.com

 

Nah, dengan spesifikasi seperti itu, berat motornya mencapai 258 kg… Berat banget ternyata, ya? Tapi dengan motor listrik yang disalurkan langsung ke roda, pasti nuansa torsinya di putaran awal sangat terasa. 😀

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *