Ekskul dalam pikiran saya

Blog #23

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran tentang sekolahan pada umumnya, khususnya SMP tempat istri saya ngajar. Kebetulan juga Istri pelatih Ekstrakurikuler (Ekskul) Tari. Waktu tanya, di SMP tempatnya ngajar ada ekskul apa aja, ternyata enggak banyak. Ya, itu-itu aja. Ekskul yang di hobiin banyak orang dan bisa dikompetisiin, kebanyakan olah raga. Bukan saya enggak setuju dengan ekskul itu, tapi kok enggak bikin banyak ekskul aja, biar kalo bisa seluruh siswa-nya tuh punya ekskul, dari pada nongkrong-nongkrong, ngerokok, tawuran, kan?

Menurut saya Ekskul ya memang harus hobi, buat yang suka gambar, ya adakan ekskul lukis, sketch, manga, atau yang lainya. Buat yang suka bahasa, bikin ekskul bahasa, baik Jepang, China, Arab, Inggris… khusus buat inggris, kan guru bahasa inggris bisa jadi pelatih sekaligus pembinanya. Banyak lagi kan yang bisa dijadiin ekskul?

Pasti yang selanjutnya bingung adalah ‘pelatihnya siapa?’ -kan? Bisa pake pelatih, bisa pake pembimbing aja kok. Misalnya ada ekskul penelitian komputer, ya pembimbingnya cukup yang ngerti internet aja, nanti anak-anak saling diskusi sendiri satu sama lain untuk bikin program apa. Seru kan, sharing kegelisahan pemrograman antar sesama penghobi… malah jangan-jangan nanti bisa ngalahin yang udah kuliah jurusan komputer. Saling sharing, saling coba, saling tanya dan cari sumber informasi baik di perpustakaan, internet, atau guru komputer. Ekskul tuh bukan yang penting menang kompetisi, tapi yang penting bisa mengembangkan bakat ataupun hobi dari siswa ke arah yang positif.

Taman sekolah terlalu luas untuk tukang kebun yang ada? Gampang, jadiin tukang kebunya pelatih ekskul ‘berkebun’. Seluruh sekolah bisa jadi tempat eksperimen dan siswa, kan? ‘Berkebun’ terlalu ga ilmiah? Ganti namanya jadi ekskul ‘botani’ atau ‘agrikultur’. Jadi mereka yang hobi atau tertarik dengan botani bisa ikut di situ. Guru biologi bisa jadi pembimbingnya, bantu bapak/ibu tukang kebun memberikan penjelasan ilmiah. Siswa diberi kebebasan untuk nyoba nyangkok, nanem, nakar pupuk, bikin pot gantung dll dst dsb. banyak yang bisa di olah lho.

Jangan orientasi lomba, orientasi hobi atau pekerjaan, pasti banyak yang bisa di jadiin ekskul. Orientasi pekerjaan juga bisa dijadiin ekskul lho.

Tenaga humas kurang? Adain ekskul ‘Public Relations (PR)’ buat bantu humas. Misal tenaga humas sekolah cuma ada seorang, seorang ini jadi pembina sekaligus pelatih, dan ngajarin anaknya cara nulis artikel, framing, negosiasi dll dst dsb. Kombinasiin sama ekskul komputer yang sudah saya singgung di atas tadi, sekarang web site sekolah bisa aktif diisi sama siswa yang ekskul PR itu. Seneng ga orang tua buka web sekolah, terus ada artikel ada fotonya, dibawahnya ada nama anaknya sebagai penulis artikel. ‘Anak gue masih sekolah udah jago bikin artikel.’ Ekskul komputer yang menyediakan web-nya, sekolah yang menyediakan hostingan dan domainya, anak PR yang ngisi artikel, kurang apa?

Fotografi! Ekskul fotografi bisa diadain juga, buat ngisi foto-foto sekolah. Mereka diikutkan di banyak kegiatna sekolah untuk mengabadikan momen-momen penting. Foto dramatis, enggak blur, komposisi keren, dan gambarnya tajam, masuk ke website sekolah.

3 ekskul bisa bikin website sekolah jalan! Gimana? Semua anak seneng bisa ngerjain hobinya, hasil karyanya dipajang, orang tua bisa langsung lihat.

Kata yang melihat sekolah:

Wah, tamanya bagus, ini hasilnya ekskul agrikultur ya?

Wah, webnya keren. Ini yang maintenance anak saya yang ikut ekskul komputer.

Wah, beritanya bagus, ternyata anak saya yang bikin artikelnya.

Wah, foto-fotonya bagus. ekskul fotografinya berkembang ya.

Nah, tapi ini cuma sekedar pikiran saya sih. Toh saya bukan guru/pengajar, jadi mohon maaf kalo ada pemikiran yang sama atau sudah ada penelitianya tentang ini.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *