Jalan-jalan ala Reina

Blog #20

Setelah lama banget ga di isi artikel, akhirnya harus bersihin sawang dulu sebelum nulis 🙂 dan ternyata banyak update dari wordpress dan printilanya yang bikin pangling.

Oke, langsung aja, latar belakang perjalanan ini adalah ide dari anak ini. Entah kenapa tiba-tiba dia bilang mau main ke sawah. Duh, belum punya sawah dia minta main ke sawah, ya akhirnya cari-cari yang punya sawah siapa. Dengan persiapan seadanya akhirnya kita merencanakan pulang ke Indramayu.

Ini pun maju-mundur-cantik (halah), dari awalnya mau berangkat pagi, sampe akhirnya berangkat siang. Oh iya, ini juga dapat terealisir karena service kendaraan masih 1000km lagi (setelah kemarin salah hitung) 😀 Masih pagi agak siang, akhirnya kita berangkat.

Sepanjang perjalanan, anak ini enggak tidur, padahal biasanya dia tidur. Biasanya setengah perjalanan, tidur. Atau bahkan dari awal perjalanan sampe berhenti di depan rumah emabah-nya dia tidur. Sepanjang perjalanan bocah satu ini menikmati perjalanan, dari liat kiri kanan, mondar-mandir, sampe mau minta berhenti sebentar karena mau foto di pinggir jalan. Yang terakhir itu ide emak-nya sih. Sayangnya gerimis, jadi ga jadi tuh foto di hutan pinggir jalan antara Subang-Purwakarta.

Mulai masuk Indramayu, ternyata ada perbaikan jalan. Duh, si ceper harus offroad masuk sawah kering punya orang… Dan, apa kata Reina? Dia minta berhenti dulu buat foto-foto. Nak, ini jalan rusak, sawah orang, bapaknya lagi ngeri bagian bawahnya gasruk-gasruk, dia minta foto. Antrian kendaraan di belakang juga ada beberapa, gimana kalo berhenti, pasti diklaksonin… haduh.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampe di Indramayu… Malem. Yang dari pagi dia minta sore ke sawah, akhirnya gagal.

“Kalo ga jadi ke sawah gimana?” Tanya ibunya.

“Kalo enggak jadi ke sawah nanti aku jadi kecewa berat.” Kata Reina. Duh, tua banget itu kata-kata kecewa berat dapet dari mana lagi.

Singkat kata, setelah sampe, main sebentar dan tidur, terbitlah fajar. Badan pak supir masih agak capek, jadi leyeh-leyeh dulu, enggak langsung pulang. Matahari baru naik sedikit, langsung ditagih main ke sawah. Sebelumnya memang udah ada persetujuan buat main ke sawahnya Ne-Yoh, jadi paginya pada dateng ke rumah dan caw ke sawah. Anak ini, senangnya bukan main dikenalin sama tanah liat dan sawah.

Jalan-jalan di pematang ga pake sendal pertama kali.

Ini pertamakalinya Reina jalan-jalan di pematang sawah tanpa alas kaki. Ini pas lagi masih takut-takutnya, nanti pas udah seneng, beda lagi.

Awalnya cuma pengen duduk-duduk jalan-jalan di pinggir sawah, tapi ternyata yang punya sawah punya ide lain. Bawa tiker, ambil kelapa, potong kelapa, minum air kelapa di pinggir sawah. Woooh, ternyata jadi pesta kebun, eh, pesta sawah.

Ini pertama kalinya Reina minum air kelapa langsung dari kelapanya, juga saya pertama kali buka kelapa sendiri. Kok orang-orang tiga-empat kali potong langsung bisa, kok saya lama ya berapa kali potong ya?

Senyum kemenangan, potongan kelapa pertama difoto Istri

Kelapa pertama buat Reina

Main sendiri di tengah sawah

Pematang sawah

 

Main tanah

Bahagianya Reina bareng mbah-mbah dan tante-om -nya.

Ternyata tamasya itu bisa menggunakan apa yang ada. Semuanya perlu ‘Ide-Dipadukan-Dimodifikasi’ (kaya tagline film apa gitu ya), dan tiba-tiba jadilah jalan-jalan ke pinggir sawah Ide Reina yang dipadukan dengan ide-ide lain seadanya. Mungkin lain kali bisa liburan ke sawahnya Uti 😀

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *