Panel Surya? Kira-kira berapa biayanya?

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatu
Selamat gini hari, salam sejahtera untuk kita semua.

Sebelumnya banyak postingan tentang motor, tapi belakangan kok saya lebih tertarik dengan energi terbarukan ya? ๐Ÿ˜€ Tapi yasudah lah, kan ini blog pribadi, bukan blog otomotif.

Belakangan saya banyak lihat status Facebook yang mengeluhkan mahalnya biaya listrik. Apa bener mahal? Hitungan saya sih, orang lebih banyak mengeluarkan biaya bensin alias transportasi dari pada listrik. Biaya transportasi 1 bulan bisa hampir 2 kali lebih biaya listrik (untuk ekonomi menengah kecil seperti saya). Kalo biaya listrik 300 ribu, biaya transportasi saya mencapai 500 ribu dalam satu bulan. Itu roda dua, kalo angkutan umum? Bisa lebih besar tentunya ๐Ÿ™‚

Anyway, saya gak akan nulis itu di artikel ini. Saya ingin berandai-andai, seandainya saya pasang panel surya, berapa biayanya? Apa aja perangkat yang dibutuhkan? Detil rincianya?

Sebelum masuk ke rincianya, mungkin ada yang bertanya-tanya, kalo pake panel surya apa perlu langganan listrik PLN? Tentu… Bisa ya atau tidak. Kadang kita butuh rekening listrik kalo urusan sama bank, kan? Ya jadi perlu ๐Ÿ˜€ Tapi bisa juga panel surya kita untukย mengurangi biaya langganan PLN. Kalo defisit, ya minta sama PLN, kalo surplus, bisa kita tabung buat malem. Kalo ternyata daya siang surplus dan daya yang ditabung bisa dipake buat malem sampe beso, ya bayar biaya langganan aja ke PLN-nya, enak kan?

Masalahnya… solar panel itu mahal (nanti kita bahas detilnya). Untuk saat ini harga di Indonesia sekitar 1jt/100watt peak. Artinya kita perlu 1 juta setiap 100 watt daya maksimal yang bisa di ambil dari matahari. Untungnya… Kalo kerja, rumah kosong kan? Nah itulah saatnya solar panel ini panen daya. Nanti pas udah pulang, baru daya yang tadi sudah disimpan dipakai. Pertanyaan berikutnya, dimana nyimpen dayanya? Baterai tentunya.

Panel Surya

Panel Surya SolarCity

Pertama kita memerlukan harga panel surya-nya. Berapa kira-kira?

Itung-itunganya, panjang ๐Ÿ˜€ Gampangnya, dari internet kita bisa cari “Insolation Map Indonesia” yang akan menampilkan rata-rata daya yang bisa dihasilkan panel surya setiap hari. Di Sekitaran pulau jawa, saya ambil rata-ratanya sekitar 800 wh/m2 perhari. Nah, berapa sih konsumsi listrik umumnya rumah tangga seperti saya? Ini saya lho, ga tau yang lain… Tagihan listrik terakhir adalah 201 khw, atau kalau kita bagi rata 30 hari adalah 6,7 kwh setiap hari, atau untuk menyamakan dengan satuan rata-rata harian panel surya adalah 6700 wh perhari. Berarti saya butuh 8,375 m2 panel surya untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik saya. Tapi, tentunya kita tidak akan benar-benar berhenti langganan, jadi cukup setengahnya saja, atau sekitar 4m2 dengan biaya sekitar 4 jt untuk panel suryanya saja.

Data 800wh/m2 berarti sekitar 4-5 jam sinar matahari maksimal, berarti bisa saja lebih atau kurang. Jadi tentunya, kadang defisit kadang surplus, tergantung mataharinya. Kalo lagi hujan… ya apa boleh buat ๐Ÿ˜€ Tapi setidaknya ini sudah mengurangi biaya PLN setengahnya kan, artinya kalau sistem berjalan dengan baik (walaupun kadang menghasilkan banyak listrik, kadang sedikit) ada penghematan PLN sebesar 50%, dan menurut perhitungan saya akan lebih besar jika menggunakan perangkat listrik yang rendah daya juga.

Baterai

Baterai Xiaomi yang (konon) isinya 5 sel baterai 18650

Baterai yang umumnya digunakan pada panel surya adalah baterai kendaraan (lead acid), atau lebih canggih VRLA atau AGM, silahkan cari tahu di wikipedia, ya ๐Ÿ˜€ Karena kemungkinan kita enggak akan bahas ini. Walaupun harganya 1/3, tapi baterai jenis ini lebih berat, dan lebih tidak tahan lama dibanding baterai lithium ion. Nah, untuk itu kita bahas li-ion aja ya ๐Ÿ˜€

Daya yang dapat diambil dari panel surya tiap harinya adalah sekitar 800*4 = 3200wh/hari atau sekitar 3,2 kwh. Jika siang hari daya ini juga digunakan untuk mesin cuci, menanak nasi, artinya tidak seluruh daya harian dapat disimpan di dalam baterai. Berarti kita hanya perlu menyimpan daya 50-70%-nya saja. Kira-kira saya membutuhkan baterai dengan kapasitas 2kwh. Untuk baterai VRLA, harganya sekitar 3-5 jtan. Tapi saya tergelitik untuk rakit baterai Lithium sendiri. ๐Ÿ˜‰

Jadi, kalo mau rakit baterai lithium sendiri, 1 cell biasanya 10Ah. Yang kita butuhkan 2000 Wh, berarti butuh 200 baterai Lithium 18650. Wah, banyak ternyata ๐Ÿ˜€ oh iya, ini yang densitas energinya lumayan tinggi, ya. Kalo harga 1 sel 80 ribu (seperti yang ada di toko-toko online) berarti butuh 80*200, 16 juta… Woooooh! Mahal. Tapi, tunggu dulu… ada cara lebih murah tapi tetep retail pake xiaomi power bank ;). 1 Xiaomi powerbank 16Ah setara dengan 57Wh. Artinya cuma butuh 2000/57=35 buah saja. Dan, harga totalnya adalah 325(harga ori xiaomi Indonesia)*35 = 11.375.000. ๐Ÿ˜€ Pasti ada kartel di sini nih. Dengan harga segitu, setiap Xiaomi-cell sudah ada Perlindungan Charger, perlindungan Voltase, perlindungan macem2 deh pokoknya. Tinggal, gimana caranya disusun biar menghasilkan Voltase dan Arus yang sesuai dengan karakter baterai yang kita inginkan.

Karena in dan out dari powerbank beda, ya kita harus tambahin dc-dc converter biar powerbank-nya 12 volt in-out (karena kebanyakan Controller Charger Solar Panel 12 Volt) Untuk perlengkapan ini kita tambahkan sekitar 100-200 ribu.

Integrasi

Berikutnya adalah integrasi dengan listrik yang sudah kita langgan. Caranya? Ya, tinggal beli inverter dan sambungin deh. Selesai. Inverter ini harganya sekitar 1-5jtan. Lebih mahal, lebih banyak proteksinya dan lebih banyak kemampuanya. Kita ambil 5 juta lah sekaliaan buat perkabelan dan lain-lain.

Harga dan Kesimpulan

Terakhir, kita hitung harganya. Biaya panel surya 4Jt, baterai 12 juta, dan inverter dkk 5 jt. Totalnya 21 juta kalo mau pasang sendiri. Kalo mau pasang sendiri ya cukup segitu lah. Kalo enggak, ya tambah 4 jt lah buat yang masang, karena ini butuh skill tho? (Bahkan banyak yang jual paketan yang lebih mahal dari ini). Rangkaian di atas untuk daya 3,2kwh per hari atau setara Rp 4.480,-/hari hemat listrik. Kecil ya? Tapi itu setara dengan Rp 134.400 per bulan dan setara Rp.1.612.800,-/Tahun. Atau, nilai barangnya sudah impas dengan pemeliharaan dalam 20 tahun. Mau lebih cepat? Perbesar panel surya-nya, maka dalam 15 tahun sudah impas belanja modalnya (bahkan mungkin ga perlu beli listrik PLN lagi).

Oh iya, jangan salah, panel surya juga mengalami kerusakan lho. Semakin lama semakin turun power yang bisa dihasilkan. Kalo enggak salah 20% turun dalam 25 tahun. Jadi siap-siap ganti panel surya ya kalo udah 30 tahun lebih ๐Ÿ˜€ Second-nya juga masih bisa di jual sih. ๐Ÿ˜›

Apa saya pake solar panel? Tentu saja enggak… Belum ada biaya.

Kalo ada biaya apa mau minta pasangin? Kalo punya biaya besar tentu aja enggak. Mau coba pasang sendiri lah, siapa tau bisa bikin startup “Kota Surya” (Solar City-nya Indonesia) ๐Ÿ˜€

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *