Motor Listrik – Dari Sport?

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatu
Selamat gini hari, salam sejahtera untuk kita semua.

Tiba-tiba saya berandai-andai tentang kendaraan listrik di Indonesia, jadi sekalian aja iseng di tulis 😀

Ngomongin soal sepeda motor listrik, kita punya dua nama saat ini. Gesits yang masih purwarupa dan sedang disempurnakan sebelum tahun depan (atau 2019 ya?) mulai di jual, sementara Viar sudah meluncurkan Viar Q1 sebagai motor listrik dengan bentuk sekuter. Nah, sayangnya dua-duanya ini sekuter, walaupun yang satunya walau masih purwarupa sudah diuji naik turun gunung, ngebut-lambat, hujan-cerah sepanjang ratusan kilometer. Dalam pengujian itu, menurut tim, kendaraan listrik Gesits dapat menempuh 100km. Rivalnya, Viar hanya dapat menempuh sekitar 75km dalam satu kali pengisian penuh baterai. Dan sayangnya, keduanya belum dilengkapi dengan kemampuan pengisian daya cepat atau fast charging.

Kenapa enggak bikin motorsport aja?

Nah, pertanyaan menangta tho? Kenapa malah bikin motor skuter dari pada motor sport? Suzuki bikin motor sport langsung laris tuh, siapa tau kalo motor listrik dimulai dari motor sport bisa langsung laris juga :D, tapi itu pikiran awal aja. Kita coba berkaca pada Tesla Motor yang pertama kali memperkenalkan kendaraan listriknya adalah Tesla Roadster. Sebuah mobil sport dua penumpang kecil yang biasa disebut kelas Roadster ini menjadi demonstrator teknologi listrik.

Gambar diambil dari RoadAndTrack.com

Logikanya, kalo sebuah teknologi dapat diguakan pada sebuah mesin balap yang menuntut performa tinggi, artinya akan mudah diaplikasikan untuk mesin/kendaraan yang lebih umum, donk. Kalo untuk kendaraan yang lebih umum dibanding sport kan, cukup kurangin daya motornya, kurangin daya baterainya, dan kurangin juga efisiensi-nya, kan? Jadi lah motor yang lebih sederhana.

Dengan teknologi yang ada, kita bisa kok bikin mesin 12kw dengan dengan efisiensi hampir 90% dan kapasitas baterai setara 10kwh pake baterai 18650, baterai yang sama dengan baterai Tesla. Tinggal di sesuaikan mau seperti apa rangkaianya. Kita buat Seriap sampai voltase 200, atau pake motor listrik biasa yang voltasenya 24-60an volt, bisa. Dengan kondisi seperti itu, perhitungan saya kendaraan dapat digeber sampai kecepatan 140 km/jam dengan jarak tempuh sekitar 112km (sudah termasuk pengurangan 20% dari perhitungan kasar). Atau 195,5km dengan kecepatan 80km/jam. Ini perhitungan saya setelah menghitung daya-power mobil Tesla, dan disesuaikan dengan baterai yang lebih kecil (baterai tesla sampai 90kwh dan penggerak listriknya 300kw lebih).

Kenapa saya sebutkan topspeed 140, sebenarnya merujuk pada top speed GSXR saya yang sekitar 140an (menurut internet), atau tepatnya 135-140 karena biasanya ada pengurangan speedometer. Dengan daya 18,9 daya kuda atau setera dengan 13,9 kw pada mesin dan sekitar 14-15 DK pada dyno, maka dengan daya seperti itu kecepatan 140 dapat dicapai. Mesin saya perhitungkan 12kw setara 16 DK, karena pada mesin listrik tidak ada rugi-rugi mekanis seperti pada mesin bensin. Dengan menghubungkan langsung motor listrik dengan rantai dan menggerakan roda belakang, maka rugi-rugi mekanis dapat ditekan sampai sekitar 5% (3-5%).

Mungkin tho bikin motor sport listrik?

Pengisian daya jadi masalah

Nah, ini yang jadi masalah, pengisian daya. Kalo kita mengisi daya kendaraan 10kwh dengan listrik rumahan, kita perlu mengisi selama 10 jam dengan daya 1000 watt. Artinya rumah 1300 watt hanya bisa menggunakan 300 watt sisanya untuk keperluan lain selain mengisi daya kendaraan. Atau kalau pengisian daya dikurangi jadi 500 watt, artinya butuh 20 jam dari kosong sampai penuh. Lama, ya… Moso setiap jalan 200km harus istirahat 20 jam??

Saran

Ada beberapa saran yang bisa saya berikan di sini, yang pertama tentunya bangun infrastruktur kendaraan listrik. Bukan bikin soket prabayar PLN di titik-titik yang kurang jelas untuk pedagang kaki lima, tapi benar-benar soket atau colokan kendaraan listrik yang sesuai standar. Entah pake SAE J1772 seperti standar eropa, CHAdeMO standar Jepang (tapi Juga ada SAE J1772 di jepang) atau kerjasama dengan Tesla biar kendaraan listrik yang nanti di buat bisa pake Super Charger Tesla. Dengan soket-soket ini, diantaranya ada yang bisa ngecharge 30 menit 80%. Dengan 1 pengisian setiap 200km, udah cukup bikin motor listrik bisa menjelajah pulau Jawa, kan?

Saran lain, berikan semacam powerbank untuk di pasang di rumah. Misalnya sebuah powerbank yang juga bisa digunakan sebagai tenaga listrik darurat di Rumah. Jadi powerbank ini di isi daya dengan 1000watt, hanya jika sedang tidak digunakan. Kalo rumah di tinggal kerja, baterai rumah ini diisi. Kita pulang, kita charge motor 1 jam, baterai kosong dan tidak mengisi. Besoknya ketika kita tinggal kerja, baterai rumah mengisi lagi… bisa kan? dan ga seluruh isi baterai terpakai kok jadi ga di perlu 20 jam (kecuali kalo baru beli) untuk ngisi baterainya. Toh, jarak kantor-rumah ga sampe 200km bolak balik kan? Apa ada ya yang jarak kantornya 100km bolak-balik jadi 200?

 

Tesla PowerWall (sayang harganya 40jtan) sumber: wp-cron.com 

Demikian, mudah-mudahan bisa jadi pemikiran kita bersama.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *