Mudik dengan Suzuki GSXR150 Part II

Assalamualaikum warohmatullah wa barokatu
Selamat gini hari, salam sejahtera untuk kita semua.

Kirain cukup satu artikel, ternyata bisa jadi dua 😀 Istirahat satu hari di Indramayu, lanjut perjalanan ke Prambanan. Tetep jalan santai dengan istirahat setiap 2 jam. Ini saya rasa paling pas untuk motor sport, karena dalam 2 jam itu pegelnya belum terlalu ‘meresap’ 😛 jadi ga terlalu pegel waktu sampe tempat tujuan. Istirahat sehari cukup, langsung bisa aktivitas seperti biasa lagi.

Jalan yang dipake adalah seperti di bawah ini.

Jalur mudik Indramayu-Prambanan

Kenapa pilih jalan ini, karena pengen. Mudik tahun lalu juga lewat jalan ini, malem-malem, bawa anak-istri berdua (walaupun terpaut beberapa puluh kilometer) sama mobil Bapak-Ibu di depan (Anak ikut mereka karena si sulung lengket banget sama Uti-nya). Waktu lewat malem, gelap, enggak ada lampu, tapi kelokan-kelokanya itu seru banget. Mbayangin ‘kalo lewat sini pake motor pasti asik, tapi kapan ya… ah pasti cuma angan-angan.’ Tapi ternyata kesampean juga 😀

Dari Indramayu menuju jalur Pantura semuanya lancar. Ramai, tapi masih terkendali. Mungkin karena kesuksesan pemerintah memeratakan pemudik, jadi Pantura tidak se macet beberapa tahun yang lalu waktu mudik motor bareng keluarga besar. Jalurnya ramai, tapi tetap lancar. Banyak pemudik (kayaknya yang lewat jalur pantura ini emang pemudik semua) tapi enggak sampai terhambat, kecuali ada angkutan umum yang berhenti atau ada terminal atau pasar di pinggir jalan.

Jalanan di Pantura ini juga cukup bersahabat. Sampai Cirebon jalanya tidak berlubang, hanya bergelombang, tapi suspensi GSXR150 mampu mengimbangi jalan gelombang ini dengan baik. Antep di bawa lari 90kpj. Eh, kadang kebablasan sampe 120kpj, itu juga sering udah segitu lupa naikin gigi 😀 Seperti yang udah pernah saya bilang, mesinya kaya nantangin minta di geber sampe 13ribu, walau power maksimalnya cuma di 10500 dan redline mulai 11500. Jalan agak rusak setelah lewat Cirebon dan mendekati Tegal juga bukan masalah buat suspensi teleskopik bilasa GSXR150.

Turun dari Brebes

Dari Brebes belok ke selatan, masuk ke kota Jatibarang, lalu Slawi. Lurus Terus (maksudnya ikuti jalan), ketemu sama pemandangan menarik Waduk Cacaban. Agak jauh sih waduknya, tapi ada spot-spot kita bisa lihat waduknya dari kejauhan diantara pegunungan. Pemandangan yang keren, tapi sayang enggak ada tempat buat berhenti, baik roda dua atau roda empat. Cuma ada sedikit tempat buat naro roda, sementara kalo mau naro standar motor bisa ngguling ke jurang. Satu-satunya tempat yang bisa buat berhenti, ya mulut jembatan.

Berhenti di pinggir jembatan, mumpung bisa.

Foto lagi

Jalan naik turun dan berkelok jadi ujian buat GSXR150, dan menurut saya Ki Wesi Ireng lulus ujian. Walau power ada di RPM tinggi, tapi mesin rasanya enggak teriak-teriak minta tolong dikurangi beban-nya. Walaupun beda karakter dengan mesin Pulsar, tapi di jalan naik turun ini saya lebih suka mesin GSX yang tenaganya lebih banyak. Melibas tikungan juga terasa mudah, mungkin karena sasis yang kompak dan wheelbase pendek. Dengan body turing, mungkin akan lebih lama nyaman di atas motor dibanding body racing begini.

Terus ke selatan jalanan mulai berganti-ganti, dari beton, aspal halus sampai aspal kasar dan jalan kecil yang dua mobil pun sulit berpapasan. Beberapa kemacetan karena perempatan juga terasa, tapi untung ada posko-posko mudik pak polisi yang setia menemani kami pemudik, jadi tidak terlalu lelah mengantri di kemacetan. Lepas persimpangan, lanjut jalan berkelok-kelok dan berakhir di Purbalingga. Masuk ke pusat kota, kemudian keluar dan mulai menuju Waduk Sempor.

Matahari sudah mulai turun waktu itu, jalan sudah gelap, dan lampu-lampu motor mulai nyala. Waktu menuju jalan kearah Waduk Sempor, sudah sangat gelap. Terus ke selatan bareng ninja RR150. Tapi sayang, sang Ninja belok dan saya harus lurus terus sendirian. Sambil berharap-harap cemas karena agak lupa jalanya, saya terus melaju.

Mungkin hanya ada 10 mobil yang berpapasan dengan saya dalam jarak sekitar 40an km. Jalan berkelok dan beberapa rambu ‘hati-hati tanah longsor’ makin menambah horor waktu itu. Jalan lain memutar jauh, jadi saya lanjutkan terus di tengah-tengah hutan.

Penasaran saya terbayar waktu pulang ke Indramayu, saya lewat jalan ini siang hari, jadi bisa menikmati pemandangan waduk sempor yang malam itu waktu ke Prambanan sama sekali gak kelihatan apa-apa.

Begitu sampai di Gombong, di satu sisi senang, sisi lain saya sedih karena harus kembali berjibaku dengan lalulintas yang agak padat. Butuh waktu agak lama untuk akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke jalur selatan menuju jalan Deandels.

“Jalan Deandels aja, Purwokerto-Prambanan cuma 2,5 jam kemarin” kata Adik yang sudah duluan sampai Prambanan. Jadi saya putuskan lewat sana, dan benar saja, sepi, tapi tetap ramai karena masih banyak pemudik. Kecepatan maksimal, tentu sangat mungkin, tapi seperti biasa, nyali surut lihat speedometer menyentuh angka 100 di malam hari, saya putuskan itu kecepatan maksimal saya, walaupun mesin GSX terus ngenyek saya sepanjang jalan T_T

Sempat satu kali berteduh karena hujan cukup lebat di masjid yang sinyal ponsel saya hilang sama sekali. Saya pikir itu satu-satunya pelatihan sabar yang saya jalani sepanjang mudik, karena macet tidak banyak dan di jalan kebanyakan pemudik yang saya temui attitude-nya baik. Menunggu hujan reda tanpa sinyal ponsel itu benar-benar pengalaman tersendiri.

Total lama perjalanan 14 Jam 22 Menit dengan jarak tempuh sekitar 400-500an km. Tanpa menginap di hotel 😛 dan istirahat di sepanjang perjalanan.

 

Jadi pengen tuker motor biar bisa boncengan lagi sama istri 🙂 Pilihanya:

 

Viar Vortex, keren juga nih.

 

Versys 250

 

V-Strom 250 (ini nih yang kelihatanya paling pas 😀

 

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *