Motor Listrik: Masalah perkembanganya di Indonesia

Assalamualaikum warahmatullah wa barokatu.
Selamat gini hari, salam sejahtera untuk kita semua.

Teknologi motor listrik adalah teknologi yang dari dulu saya impikan, tapi sayang menurut saya belum ada yang serius menggarap teknologi motor/mobil listrik ini di Indonesia. Kenapa saya bilang belum ada yang serius, saya coba jabarkan di bawah nanti tentang bagaimana kalo mau serius mengembangkan kendaraan listrik, baik pemerintah ataupun swasta.

 

Infrastruktur

Ini hal paling penting, infrastruktur. Mungkin sebagian besar berfikir kalau motor listrik berarti bisa di charge di rumah. Yuk kita itung-itungan sedikit tentang daya listrik. Kebetulan saya cuma pernah tinggal di rumah yang daya-nya antara 450-1300 watt. Pernah nemu sih yang 2200 watt, tapi jarang. Nah, daya 1300 watt ini berarti 1,3kw dalam satu jam, artinya jatah daya yang diberikan rumah adalah 1,3kw dalam satu jam. Lha kalo ada motor listrik punya penyimpanan daya 10kwh, berarti dengan 1kwh perlu 10 jam untuk mengisi dari kosong sampai penuh… 10 jam dipake cuma 2 jam, kan kesel yak?

Untuk itulah perlu adanya charging station, atau stasiun pengisian listrik. Biasanya, kalo di luar negeri stasiun pengisian listrik untuk kendaraan ini gratis dan ada di tempat-tempat tertentu disertai dengan tempat parkir. Di Indonesia? Belum ada lah.

Contoh stasiun pengisan listrik di luar negeri, Charging Station Tesla

Stasiun pengisian listrik khususnya Tesla ini bukan dibangun pemerintah lho, Tesla sendiri yang membangunkan tempat pengisian listrik berkecapatan tinggi ini. Mengisi daya listrik menggunakan stasiun pengisian cepat Tesla untuk mobil-mobil Tesla hanya perlu 30 menit sampai 80 persen, dan 1,5 jam untuk sampai penuh. Kalo setiap 300km istirahat 30 menit untuk ngecharge, pilihan yang logis kan? Di seantero Amerika sana, sudah cukup banyak tersebar Tesla Supercharger Station, jadi untuk menjelajah seluruh Amerika dengan mobil listrik tesla, bukan tidak mungkin.

Kalo pengembangan stasiun pengisian listrik ini dirasa terlalu mahal, ya harusnya sih pemerintah bisa ikut ambil bagian di sana. Kalo pertamina misalnya, mewajibkan seluruh waralabanya menyediakan tempat pengisian listrik untuk kendaraan listrik, cukup kan kalo ada pengguna kendaraan listrik yang mau mudik? Apa lagi kalo sudah pake teknologi pengisian cepat macam punya tesla itu.

 

Standar colokan kendaraan

Mengisi daya kendaraan listrik menggunakan colokan standar rumahan rasanya kurang aman, perlu ada standar yang digunakan di negara ini untuk masalah colokan ini. Bisa saja seperti Tesla, punya standar sendiri untuk kendaraan buatan perusahaanya, tapi berarti perusahaan tersebut harus menyediakan juga stasiun pengisian daya sendiri untuk kendaraan listrik mereka.

CHAdeMO kiri dan SAE J1772 kanan pada kendaraan listrik Nissan Leaf

Di dunia sudah ada beberapa standar colokan untuk kendaraan listrik, masing-masing punya kelemahan dan kelebihanya. Bahkan di Jepang ada standar yang dikembangkan untuk Jepang yang disebut CHAdeMO. Dengan perusahaan yang namanya sama, diusulkan menjadi standar industri global untuk kendaraan listrik. Dengan soket CHAdeMO ini, daya listrik sebesar 62,3kw menggunakan soket khusus. Bahkan di mobil listrik Nissan Leaf terdapat dua jenis colokan, CHAdeMO dan SAE J1772 berdampingan untuk memudahkan memilih antara stasiun pengisian dengan soket CHAdeMO atau SAE J1772.

Kalau di negara maju, pemerintah menyediakan tempat pengisian gratis dengan soket ini, tapi kalau Indonesia, bisa saja tetap mengenakan tarif untuk biaya pengisian sesuai harga listrik per KWh, masih tetap lebih irit kok dibanding menggunakan bahan bakar minyak.

Selain lebih cepat mengisi, standar colokan ini juga lebih aman dibanding colokan standar yang hanya terdiri dari kutup positif dan negatif di perumahan.

 

Pola pikir masyarakat dan industri otomotif

Terakhir menurut saya adalah pola pikir masyarakat dan industri otomotif di Indonesia. Di Indonesia belum ada yang sekuat Tesla menggebrak industri otomotif, khususnya kendaraan listrik. Perlu kerjasama antara pemerintah dengan produsen otomotif, misalnya pemerintah membangunkan titik-titik pengisian daya kendaraan listrik. Atau pemerintah memberikan insentif pajak untuk kendaraan listrik karena kendaraan listrik karena kendaraan listrik lebih ramah lingkungan.

Pola pikir masyarakat juga menjadi kendala, tapi menurut saya seiring trend kendaraan listrik yang terus meningkat, masyarakat akan lebih mudah menerima kehadiran kendaraan listrik di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang meliputi hal baru di bidang otomotif biasanya:

  1. Sparepartnya gimana? Jawabanya: sparepart pada kendaraan listrik hanya motor listriknya saja, dan beberapa komponen listrik. Tidak ada perawatan berkala pada kendaraan listrik, tidak perlu ganti oli karena tidak ada oli, tidak perlu membersihkan injektor, karburator, atau saluran intake karena tidak ada itu. Hanya perlu mengganti dan memeriksa cairan pendingin baterai pada beberapa kendaraan listrik performa tinggi yang baterai dan mesinya menggunakan cairan pendingin.
  2. Servicenya susah. Jawabanya: Service yang dilakukan pada kendaraan listrik hanya pada komponen-komponen gerak yang juga ada pada kendaraan biasa. Tidak perlu service mesin, karena mesin dapat didiagnosa menggunakan perangkat, atau bahkan pada kendaraan canggih akan mendiagnosa dirinya sendiri.

Masih ada beberapa pertanyaan lain, tapi udah itu aja dulu ya. Lain kali kita bahas lagi lebih dalam tentang kendaraan listrik.

Begitulah opini saya tentang kendaraan listrik yang tak kunjung berkembang di Indonesia

Tambahan sebagai pemanis, beberapa kendaraan listrik roda dua premium yang sudah beredar di dunia.

Energica Ego Top Speed 240km/jam Baterai 11,7kwh Pengisian daya dengan fastcharge: 30 menit sampai 80%

Top Speed lebih dari 300km/jam (mungkin di limit versi jalananya) Baterai 12 kwh, 15 kwh, dan 20 kwh Pengisian cepat 30 menit sampai 80%

Vicyory Empulse TT

 

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *