Kendaraan bermotor dan lingkungan

Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarokatu.
Selamat gini hari, salam sejahtera untuk kita semua.

Berawal dari sebuah komentar yang menyatakan bahwa di Indonesia tidak perlu menghawatirkan emisi kendaraan bermotor, akhirnya saya mencoba menulis tentang emisi kendaraan bermotor. Berkendaraan menurut saya sama dengan saat kita menikmati makanan atau cemilan, ada sebagian sampah yang harus dibuang karena tidak semua yang kita nikmati itu habis menjadi energi dan kesenangan. Begitu juga dengan gas buang kendaraan bermotor, menikmati kendaraan bermotor bukan berarti tidak perduli dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan walaupun regulasi pemerintah hanya diberlakukan pada kendaraan baru saja (tidak saat pembayaran pajak, balik nama, atau administrasi lain). Dan di Indonesia pengenaan pajak kendaraanya masih belum seperti di eropa, yang dikenakan berdasarkan emisi kendaraan, semakin boros/kotor emisi gas-nya, semakin mahal pajaknya.

Semakin banyak yang tidak perduli, semakin cepat dunia ini sulit di huni manusia. Semakin banyak yang tidak perduli, semakin cepat juga generasi penerus kita sulit bernafas karena generasi sebelumnya tidak perduli dengan alam yang nantinya kita wariskan pada anak-anak kita juga.

Hal paling sederhana, penggunaan knalpot/exhaust system free-flow atau biasa kita sebut knalpot racing. Penggunaan knalpot racing akan serta merta meningkatkan efisiensi folumetrik (VE) sehingga meningkatkan tenaga mesin. Peningkatanya beragam, tergantung konfigurasi klep dan setelan campuran bahanbakar-udara yang digunakan. Tapi dengan dihilangkanya Katalitik Konverter (katkon), maka selain meningkatnya tenaga, juga meningkat pula emisi gas beracun karena tidak di katalis oleh katkon. Zat-zat berbahaya dari knalpot yang dilepas ke udara ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diproses menjadi zat tidak berbahaya yang kemudian diurai alam.

Kita ambil contoh karbon dioksida dan karbon monoksida.
Pada regulasi kendaraan bermotor, jumlah gas karbon monoksida ini ditekan dengan menggunakan katalitik konverter, dirubah menjadi gas karbon dioksida yang lebih mudah diurai alam.

2CO + O2 → 2CO2  Setelah itu di fotosintesis CO2 + 2H2O + photons → [CH2O] + O2 + H2O

Artinya proses perubahan dari CO sampai karbon-nya di proses tanaman kembali menjadi oksigen membutuhkan waktu 2 kali lipat. Jika CO2 1 tahun, proses CO 2 Tahun. Jika CO2 4 tahun, maka CO 8 Tahun. Artinya semakin banyak gas yang hadir akan juga semakin lama proses daur-nya.

Selain CO, ada banyak material lain yang juga memerlukan proses lebih panjang untuk mengurangi kadar racunya secara alami tanpa Katkon. Sesungguhnya standar emisi euro itu bukan terpaksa kita ikuti karena diberlakukan pemerintah, tapi cenderung untuk mengendalikan manusia yang tidak perduli dengan lingkunganya itu. Bagi yang perduli, harusnya juga di sediakan produk-produk kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Nah, bagi yang melepas katalitik konverter-nya, berarti sama seperti orang yang buang sampah sembarangan, kan? Itu pilihan, untuk performa katanya, biar keren, tapi keturunanya susah bernafas. Dan parahnya, yang susah bernafas bukan keturunanya saja, tapi mereka yang sekarang mati-matian berusaha mengurangi polusi juga keturunanya ikut susah bernafas. Belum lagi dampak perubahan iklim. Perubahan ekosistem karena polusi udara.

Edisi Curcol

Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatu

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *