Ride the CBR150R

Assalamualaikum.
Selamat gini hari, salam sejahtera buat kita semua.

Yg saya maksud dalam tulisan ini:

CBR = CBR150R keluaran terakhir (K45G)
GSX = GSXR150

 

Kemarin dapat pinjama CBR (Tuker Pinjem dengan GSX), jadi ada kesempatan icip-icip mesin baru honda tersebut. Langsung aja kita bahas ya.

Sasis dan body

Body dan sekitarnya

Sasis dan body pada motor ini tergolong rigid, indikasinya, sasisnya keras (ya iyalah keras ๐Ÿ˜€ ), maksudnya sasisnya enak buat fast-cornering. Terasa kokoh dan stabil pada saat kecepatan tinggi, akselerasi, ataupun menikung. Body juga terkesan keras dan kokoh, sudah sepantasnya sih, kan produk premium sport 150cc.

CBR 150 R Punya bro Helmi

Firing-nya dilihat dari deket itu agak kotak ya. Maksudnya bagian sisi Firing bersudut, apa enggak menyebabkan hambatan udara ya? Atau mungkin insinyur honda sudah menyiapkan bahwa pada kecepatan 100km/jam firing ini yang paling cocok untuk diaplikasikan pada motor. Apapun itu, honda berhasil membuat bagian mata motor ini terlihat sangar. Dua matanya cukup menjelaskan bahwa dirinya CBR, dan kalian harus aware kalo ada CBR di sini. ๐Ÿ˜€

Yang menarik lagi dari peneranganya adalah, ternyata tidak nyebar ya cahaya lampunya. Cenderung fokus menerangi jalan. Oh iya, ada dua setelan puter-puter di bagian belakang lampu, tapi saya belum tanya ke yang punya fungsinya untuk apa. Mungkin untuk mengatur ketinggian, tapi apa ketinggian kiri dan kanan lampu dapat di setela terpisah, atau satunya ketinggian lampu jauh, satunya ketinggian lampu dekat. Kapan-kapan saya tanya.

Pengereman dan ban

Pengeremanya cukup baik, tapi entah kenapa untuk honda saya sering tidak menemukan kapan harus berhenti mengerem, sampe akhrinya banya lock. Untungnya, ban yang dipake cukup bagus… eng, apa ya merk nya? ๐Ÿ˜› Ah, review abal-abal masa lupa sama merk ban-nya… Sempet lock dan skid sedikit (duh, yang punya marah ga nih? maaf ya mas helmi-fajar.netย ๐Ÿ˜€ ) tapi masih bisa dikendalikan, entah karena ban atau sasisnya yang anteb ya.

Bagian tuas rem juga ada kecenderungan terlalu lebar. Agaknya membuat tangan kanan lebih lelah dari motor lain. Ditambah lagi entah kenapa gas-nya kok rasanya sedikit lebih berat ya… atau lebih besar mungkin genggamanaya dari motor yang lain. Oh iya, kalo di ingat ke belakang, varian lama honda juga seperti itu sih, jadi mungkin memang memberikan kenyamanan bagi pengguna yang lain ( maksudnya bukan saya ).

Mesin

Langsung masuk ke mesin deh. Pertama kali tarik gas, ada hentakan luar biasa besar. “Keren!” kata saya dalam hati, tapi kok cuma sampe 6000 ya? 7000 udah mulai bergetar, dan 8000 mesin sudah seperti bilang “Cukup! Naikin giginya donk!” Yah, khas overstroke, ternyata DOHC enggak bikin stroke panjang jadi enak di geber di RPM tinggi (ga ad hubunganya sebenernya ๐Ÿ˜€ )

Karakter mesin yang demikian bikin kita lebih sering ganti gigi di RPM yang lebih rendah di banding yang stroke-nya lebih pendek. Karena itu, jadi sering dapet 80km/jam di jakarta dengan gigi 6. Tarikan gigi 6 pun masih terasa baik dari 60km/jam samai 80 lebih dikit (Trek-nya udah abis). Memacu motor ini tiba-tiba terbesit, kok kaya megapro yang powernya jauh lebih besar ya? Usut punya usut, mereka menggunakan bore dan stroke yang sama. Weee… baru tahu. Pantesan ada rasa megapro di CBR (jangan baper!)

Maksudnya rasa ini seperti grafik dynonya sama, cuma di geser di sumbu Y positif ke atas. Pastinya plat kopling, pompa oli, saluran pendingin-nya beda lah. Pastinya juga kompresi dan maping ECU-nya beda. Cuma karena Bore-Stroke-nya sama jadi kurva tarikanya mirip, gitu aja. Jangan Baper ya. Tetep mesin ini patut diacungi jempol kok.

Mesin ini saya juluki street dominator. Di jalanan kota memang akan mendominasi, terutama kalau banyak stop and go. Begitu lampu hijau, buka gas, langsung ngacir. ๐Ÿ˜€ Cocok untuk digunakan harian tentunya.

Ergonomi dan kenyamanan

Kita masuk ke ergonomi, tentunya ergonomi ini akan mendukung kenyamanan. Apakah nyaman? Ya, dan tidak. Nyaman duduk di joknya nyaman juga mengendarainya, tapi bagian atas tangki rasanya agak terlalu besar jadi agak menekan paha. Tapi di luar itu, rasanya cukup nyaman karena masih lebih tegak dibanding 150cc rivalnya. (note: yang 155 cc ga saya masukin ya, udah bukan rival itu, kelebihan 5 cc kan jadi ga sekelas ๐Ÿ˜› )

Tapi… tetep ada tapinya ternyata. Saya kok merasa dudukan kakinya agak kurang ke belakang ya? Jadi bagian kaki ini seperti ergonomi motor lain yang stang-nya dipendekin. Stang dengan jok juga jadi terkesan jauh. Tapi masih tetap nyaman sih, belum sampai di tahap aneh yang saya udah gak tahan keanehanya.

Pegelnya gimana? Lebih rilex dari GSX tapi ada beban yang berbeda pada ergonominya. Ergonomi CBR lebih duduk dibanding rivalnya.

Walaupun sudah tahu kalau CBR ini lebih berat, tapi kok ya rasa-rasanya jauh ya beratnya. Atau mungkin karena distribusi bobotnya yang berbeda ya? Selisih beratnya tidak se-enteng yang dipikirkan.

Kesimpulan

Mesin yang bagus untuk areal perkotaan! Menyenangkan mengendarai CBR di tengah kota yang belum bangun. Kota yang matanya masih kriyep-kriyep, banyak lampu merah, tapi kemacetan belum mengular. Rilex di ajak drag sekejap, kemudian berhenti lagi karena lampu merah. Mesin stroke panjangnya merespon dengan baik, sangat menyenangkan!

Tapi… tunggu dulu kalau mau di bawa jarak jauh dengan medan datar. Mesinya akan meraung di putaran 6000 dan semakin keras seperti tersiksa sampai rpm 8000 (saya belum pernah lebih). Getaran mesin juga terasa di RPM tersebut, semkin keras dengan naiknya rpm sampai 8000. Dengan kondisi jalan yang panjang dan datar, rpm ini akan terus-terusan digunakan, dan membuat badan terasa pegal (Curcol dengan motor sebelumnya yang begini). Pilihanya hanyaย mengurangi beban tubuh dengan mengurangi RPM agar tak terlalu bergetar atau terus geber sementara tubuh menahan motor-nya.

Begitulah sedikit impresi tentang CBR.

note: foto hanya pemanis, ga ada hubunganya dengan yang lagi di bahas. ๐Ÿ˜›

Wassalamualaikum.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *