Bijak Pake Perangkat Navigasi

Walau bukan teknologi baru, ternyata banyak lho yang mengeluhkan penggunaan perangkat navigasi, khususnya karena perangkat navigasi ini sekarang bisa ditemukan dimana-mana termasuk di ponsel cerdas. Kalo dulu, perangkat ponsel belum seperti sekarang, ada perangkat khusus untuk menggunakan navigasi dengan peta yang biasanya di perbarui secara berkala. Sekarang, ponsel 1juta pun sudah dilengkapi dengan GPS dan peta digital yang bahkan secara langsung memuat kondisi jalan. Masalahnya, semakin banyak yang pakai, semakin banyak juga yang tidak mengerti cara make-nya. Ya caranya sih tinggal pilih aplikasinya, ikuti instruksinya, tapi enggak sedikit yang malah nyasar gara-gara pake perangkat itu. Intinya sih kalau sedikit yang pakai, sedikit yang kesulitan, banyak yang pakai banyak yang kesulitan, tidak ada yang pakai, ya tidak ada yang kesulitan memakainya, bertumbuh sesuai populasi penggunanya.

Bahkan blogger sekelas Iwanbanaran di artikelnya di sini juga menuangkan kekesalanya karena diarahkan menuju jalan yang belum dibuka, walah… Saya enggak bisa menyalahkan penggunanya sih, toh pengguna maunya aplikasi yang mereka gunakan yang berjalan dengan baik, apapun dibalik kegagalanya yo aplikasi itu gagal (bisa jadi masukan buat pembuat aplikasinya, tapi sayang enggak disebutkan).

Nah, caranya biar enggak terjebak gitu, gimana ya?

Cara Kerja Perangkat Navigasi

Susunan orbit satelit pemosisi dengan 24 satelit operasional

Tahu dulu cara kerja perangkatnya, bukan detil kerjanya gimana, tapi paling enggak kita tahu garisbesarnya. Perangkat lunak navigasi ini biasanya terdiri dari 3 bagian, peta digital yang biasanya diambil dari gambar satelit yang kemudian menggunakan algoritma dituangkan dalam bentuk yang lebih mudah dilihat, perangkat navigasi yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sumberdaya online dari setiap pengguna aplikasi-nya dan kecerdasan buatan yang memiliha-milah dan mengolah informasi tersebut, dan Perangkat Pemosisi baik GPS (Global Positioning System), GLONASS (Globalnaya navigatsionnaya sputnikovaya sistema), Galileo GNSS (Global Navigation Satellite System), dan teman-temanya.

Tiga elemen ini bersatu menjadi sebuah aplikasi, baik itu Waze, google maps, sygic,  apple maps, dan kawan-kawan. Mungkin peta-nya sama, posisinya juga sama-sama benar, nah masing-masing punya sumber yang berbeda-beda pada perangkat navigasi ini. Untuk Waze, ada sumber yang langsung didapat dari penggunanya, artinya pengguna Waze saling bantu satu sama lain memberikan informasi baik itu kemacetan, pengalihan jalur, bahkan jalur baru pun bisa ditambah menggunakan aplikasi ini. Dipadukan dengan data satelit dan survey langsung, tentunya akan meningkatkan tingkat kekinian, tapi berkurangnya tingkat keakuratan.

Semakin tinggi akurasinya semakin lambat datanya diolah. Tapi semakin cepat diolah, akurasinya akan turun. Nah, para penyedia layanan navigasi ini mencoba memadukan antara kecepatan dan ketepatan, mencoba mencari formulasi yang kalo bisa dua-duanya baik. Tentunya kalo sumbernya dari kerumunan, semakin banyak kerumunan yang sudah lewat jalan itu, semakin akurat data yang diberikan. Susah juga kan kalo bikin 1000 akun yang bilang ‘jalanya sudah dibuka’ cuma buat ‘iseng.’ Toh ini juga pasti akan dikoreksi ribuan orang lain yang sudah lewat situ sebelum ataupun sesudahnya.

Kendala

GPS

Nah, kalo sudah tahu bagiamana perangkat GPS ini berjalan, barulah kita bisa tahu apa saja kendalanya. Tentu yang pertama sinyal GPS.

Satelit GPS itu ada di 20 ribu km dari permukaan laut, memancarkan sinyal pada seluruh perangkat di dunia. Untuk GPS ada 33 satelit, kita butuh 4 sinyal satelit agar pemosisi dapat bekerja. Kalau lebih dari itu, bisa jadi lebih tepat pemosisinya bisa sampai 5-10 meter radius. Paling banyak 10 satelit kalo ga salah, tergantung posisi kita dimana dan kapan, tergantung orbit.

Yang mempengaruhi sinyal GPS ini selain perangkatnya, semakin bagus semakin mudah dapat sinyalnya, juga kejernihan langit. Kalo mendung jadi lebih sulit menerima sinyal. Kalo terhalang gedung tinggi atau di dalam terowongan juga kemungkinan meningkat kesulitan menerima sinyalnya. Kalo naik kereta masuk IJO biasanya langsung ‘sinyal GPS hilang.’

Tentang sinyal GPS, perpaduan antara mendung, masuk ke sisi gunung dan gelap, pernah waktu itu ‘sinyal GPS hilang’ di posisi pukul 8 malam dari Indramayu ke Yogyakarta pas jalan menuju Sempor. Gelap, jalan enggak kelihatan, enggak ada kendaraan lain. Akhirny berhenti sebentar sampe sinyalnya dapet lagi (untungnya dapet lagi).

Peta

Peta pada perangkat navigasi ini tidak sepenuhnya sempurna. Kadang ada tempat-tempat yang seharusnya tidak ada jalan tapi dinyatakan ada jalan. Pernah saya coba-coba cari jalan, ternyata tidak ada jembatan, tapi ada sungai dangkal yang mungkin biasanya dipakai untuk menyeberang. Ckckck…

Ada juga yang seharusnya ada jalan tapi belum ada di peta karena belum ada yang lewat daerah itu. Atau tidak tercatat karena pengguna GPS yang lewat situ selalu kehilangan sinyal karena tempatnya yang agak tertutup, sehingga aplikasinya tidak mencatat kalau disitu ada jalan karena dianggap tidak pernah dilewati.

Navigasi

Nah, perpaduan antara peta, GPS dan informasi lain, jadilah perangkat navigasi kita. Masalahnya karena informasi peta yang kurang tepat, GPS yang tidak beroperasi baik karena kehilangan sinyal, bisa menyebabkan navigasi yang berantakan. Saya pernah waktu pulang mudik dari Prambanan naik Pulsar UGIV bareng istri, nyasar lewat sawah-sawah kering dan harus melintas jembatan yang sepertinya cuma bisa dilewati orang. Saya paksa lewat sambil berserah diri, dan berhasil walau jembatanya ‘kriyet-kriyet.’

Informasi macet juga salah satu yang bisa kita nikmati sekarang, jadi perangkat navigasi akan memperhitungkan kecepatan termasuk macetnya. Tapi ya pastinya terkendala kecepatan update yang kadang macetnya sudah hilang, tapi masih tertulis macet. Jadi harusnya kita tidak perlu cari jalan lain kita malah cari jalan lain. Tapi berdasarkan pengalaman informasi macet ini hampir realtime, saya bisa menghindar macet Tol Cikampek dan lewat jalur pantura karena pake aplikasi ini.

Street view.

Saran

 

Saran saya bagi pengguna perangkat lunak navigasi, lebih bijaksana dalam menggunakanya. Perangkat navigasi ini tidak selalu bisa diandalkan, jadi perangkat navigasi ini harusnya menjadi semacam ‘nilai tambah’ dalam perjalanan, bukan hal yang utama. Sebaiknya kita tetap menggunakan jalan yang sudah kita tahu, kecuali kalau siap nyasar.

Biasanya kalau saya pake perangkat navigasi itu direncanakan sejak awal. Dari awal kita lihat dulu melalui perangkat, macetnya dimana saja. Direncanakan akan lewat mana, baru kita jalan. Pasti kan setiap 2-3 jam istirahat, nah nanti di review lagi jalan yang mau kita lewati, apa masih sesuai apa sudah berubah kepadatanya, atau jangan-jangan malah ada pemblokiran jalan.

Beda lagi kalau sejak awal perjalanan memang maunya bertualang lewat jalan baru… Kalo itu baru ikuti Navigasinya. 😀

Kalo di kota besar, biasanya lebih akurat, karena data yang dikumpulkan cukup banyak. Biasanya hal-hal ini terjadi kalo ada di luar kota seperti kejadinya om iwan itu.

 

Tetap perlu kebijaksanaan manusianya untuk menggunakan Teknologi

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *