Kendaraan listrik : Baterai vs Fuel Cell

Kendaraan listrik itu tidak se-hijau yang dibayangkan. Baterainya aja terbuat dari logam-logam yang harus di tambang, dan setelah rusak jadi polusi. Belum lagi penambanganya juga bikin polusi. Jangan lupa listriknya sendiri juga lebih dari 50% dari bahan bakar yang melepaskan gas karbon ke udara.

Yup, pernyataan diatas benar, tapi dengan menggunakan kendaraan listrik, kita bisa mulai mengganti pembangkit listriknya jadi lebih hijau kan, misalnya dengan menggunakan angin, matahari, ombak, atau air melalu bendungan. Tapi masalah baterai gimana? Nah ternyata ada dua pendekatan nih mobil listrik, yang pertama menggunakan baterai seperti kebanyakan saat ini, yang kedua menggunakan sel bahan bakar atau Fuel Cell atau singkatnya FC.

Gimana cara kerjanya? Ada beberapa jenis, intinya FC ini memungkinkan mengambil energi listrik dari sebuah reaksi kimia. Misalnya, untuk FC Hidrogen, hidrogen akan dialirkan ke FC, sebagai anoda, dan Katoda-nya Oksigen. Saat terjadi penyatuan antara Hidrogen dan Oksigen, terjadi pelepasan elektron yang nantinya digunakan sebagai listrik untuk menggerakan motor listrik.

Seperti ini lah kira-kira diagramnya

Dengan skema ini, tidak digunakan baterai lithium, tapi menggunakan hidrogen sebagai Anoda-nya. Tentunya karena tidak menggunakan lithium pengisian daya-nya akan lebih cepat, seperti mengisi bensin. Hanya saja, banyak yang khawatir kalau tempat penyimpanan hidrogen ini bocor, bisa meledak donk… Tapi tenang, banyak yang bilang aman kok, ada banyak di youtube, tapi kali ini mungkin enggak kita bahas. Salah satunya, karena hidrogen ini bertekanan tinggi, dan bukan hidrogen cair, begitu bocor ya hidrogen langsung menguap sebelum sempat terjadi ledakan.

Dengan keunggulan ini, satu-satunya kelemahan yang sampai sekarang menjadi masalah adalah infrastrukturnya. Tentu untuk membangun sebuah stasiun pengisian hidrogen ini akan lebih susah dari pada stasiun pengisian listrik baterai.

Bagi penyuka bensin, dan konsumer karbon, tentu ada celahnya. Hidrogen ini dalam produksinya masih menggunakan bahan dasar yang melepaskan karbon, misalnya pake metan, bahan logam dan lain sebagainya. Sebetulnya ada cara elektrolisis, tapi cara ini tingkatanya masih seperti baterai, perlu penelitian lebih lanjut.

Jadi, kendaraan listrik? Sementara belum bisa meninggalkan polusi, tapi setidaknya mengurangi polusi. Kalo mobilnya udah listrik, kurangi pembangkit listrik berbasis karbon, jadi ikut turun kan pelepasan karbonya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *