Selalu Waspada Saat Ber-‘Motor’

Karena perjalanan berkendaraan lebih dari 1 jam, saya jadi sering mikirin macem-macem ngalor ngidul. Salah satunya review jalan jauh bawa motor, dari mudik waktu zaman kuliah bareng keluarga besar sampe beberapa kali bareng istri ‘pulsar’-an ke Klaten via Kebumen.

Mudik

Salah satu yang saya dapat dari perjalanan panjang itu adalah, dalam berkendaraan roda dua khususnya kita harus “Selalu Waspada!”. Semakin panjang perjalanan, semakin badan kita lelah semakin kewaspadaan kita berkurang seiring dengan reflek mengambil alih. Hasilnya, ‘autopilot,’ jadi bukan otak lagi yang memerintahkan, tapi gerak-ingatan atau reflek yang mengambil alih. Ini antara bagus dan buruk sih. Bagusnya, tentu beban otak berkurang, jeleknya karena otak keenakan nyantai ketika reflek harus di ambil alih, otak telat mengambil alih. Hasilnya, kecelakaan yang mengakibatkan banyak collateral damage atau kerusakan tambahan yang kadang bisa diminimalisir kalau otak kita berhasil mengambil alih reflek tadi.

Berduaan ke Indramayu. Dari Tangerang Selatan – Indramayu – Kebumen – Prambanan

Kesimpulan ini saya ambil setelah menjalani perjalanan 600 km atau 1200km pulang pergi Jakarta-Kebumen-Klaten lebih dari 10 kali sejak SMA, termasuk diantaranya membelah kemacetan mudik beberapa kali dari pakai Honda Megapro 1600 (160cc), Honda Karisma (125cc), Pulsar 180 UGIV, dan terakhir GSXR150.

Pada dasarnya berkendaraan dimana saja sama kok, kuncinya ber-empati dengan pengendara lain, walaupun kadang pengendara lain enggak perduli. Berikutnya adalah sabar, mau kaya apa di selip orang, sebaiknya tetap sabar, bisa jadi enggak sengaja mereka. Hal selanjutnya yang perlu digunakan untuk berkendaraan aman adalah logika. Pertimbangkan apakah dengan cara berkendaraan kita, kita masih aman, atau masih bisa di ‘push’ lagi. Kalo ini di pegang, insya Allah bisa diminamilisr terjadinya kecelakaan.

GSXR150 Jakarta-Indramayu-Kebumen-Klaten

Pernyataan di atas itu berdasarkan pengalaman yang harganya cukup mahal. Harganya dibayar dengan tulang jempol geser, bagian kaki kanan sobek sampe ga bisa dijahit, helm baret dan stang bengkok pada beberapa kecelakaan. Dengan meningkatnya pengalaman tentunya intensitas jatuhnya berkurang, walaupun volume ber-motoran-nya nambah.

Dari pengalaman saya, semakin badan terasa capek, semakin berkurang kewaspadaan berkendaraan. Awalnya empati dengan pengendara lain berkurang, mulai tidak perduli dengan pengendara lain, asal ada space kosong, langsung selip. Sudah enggak lagi mikirin pengendara lain kira-kira mau kemana. Indikasinya, saya mulai pake klakson buat ngasih tau orang lain kalo ‘gue ada di sini.’ Jadi kita enggak lagi memperhatikan pengendara lain, tapi pengendara lain yang suruh merhatiin kita biar mereka jangan sampe nabrak kita.

Hal berikutnya logika berkendaraanya berkurang bahasanya gampangnya udah enggak pake mikir lagi riding-nya. Yang penting enggak kecelakaan, walaupun pengendara lain kaget terus mereka yang kecelakaan, yang penting motor gue selamet. Kalo ada kendaraan lain sudah masuk di jalur kita, ya pepet aja, lihat siapa yang paling rugi kalo kendaraanya baret. Biasanya ini juga yang bikin plat nomor belakang motor bengkok-bengkok, dipepet sampe habis space jalanya karena ‘enggak mikir.’

Nah, setelah capeknya dibiarkan terus menggerogoti badan, akhirnya hilang lah kewaspadaan, diambil alih reflek. Reflek ini enggak buruk2 amat sebenernya, bisa mengurangi beban otak waktu berkendaraan. Misalnya aja kalo kita biasa lewat satu jalan ke tempat kerja, mau pake jalan lain, tapi malah pake jalan yang sama karena lupa belok, ini reflek berkendaraan yang mengambil alih. Tapi kalo kondisi badan capek, reflek ini bisa menyebabkan microsleep atau tidur kecil karena saking santainya otak. Saya pernah sampe masuk gravel alias keluar bahu jalan gara-gara ketiduran. Untungnya begitu sadar otak langsung ambil alih dan melakukan pengereman ABS (ngeremnya dikira-kira biar enggak lock), jadi enggak sampe jatuh, berhasil berhenti.

Dari banyak pengalaman bepergian jauh pake motor ini, saya menyimpulkan kesimpulan menarik, terutama buat badan saya ya, saya enggak tau kalo yang lain gimana.

Dalam perjalanan, berapapun jarak tempuhnya, saya harus istirahat setiap 2 jam. Kalo lebih dari 2 jam, akan mulai terasa capek di badan. Rasa capek ini bisa hilang dengan cepat, tapi kalo lebih dari 2 jam yang terakumulasi akan banyak. Begitu sampe tujuan dan istirahat, hari berikutnya pasti masih terasa capek banget badanya. Kalo berhenti setiap 2 jam, walaupun perjalanan memakan waktu 12 jam, rasanya istirahat satu kali sudah cukup.

Pernah di awal-awal saya mudik memaksakan diri 4 jam berkendaraan. Memungkinkan, tapi pegel banget setelah sampai.

Istirahatnya saya tekankan pada waktu, bukan jarak, karena pada beberapa kesempatan dengan jarak yang sama, waktu tempuhnya bisa jauh lebih lama. Misalnya pengalaman waktu mudik, jarak tempuh 600km bisa jadi di tempuh dalam waktu 22-25 jam menggunakan sepeda motor. Berasa ikut lemans 24 hour pake motor, tapi jalanya rally. 😀

Selain hal-hal diatas, kondisi psikologis juga kadang mempengaruhi kewaspadaan saat berkendaraan. Sebaiknya di-stabil-kan dulu psikisnya kalo mau berkendaraan, apa lagi jarak jauh.

Kira-kira yang lain setuju enggak nih sama saya?

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *