NMAX, PCX atau Aerox?

Sudah dapat aproval dari menteri keuangan keluarga, tapi kok ya malah bingung. Tadinya enggak terlalu perduli sama performa mesin untuk motor dengan transmisi CVT, tapi belakangan setelah baca beberapa artikel kok ya performance sepertinya jadi ikut penting. Gara-gara ini akhirnya NMAX dan Aerox jadi kembali masuk opsi pilihan kendaraan pengganti Vario 125 yang sudah hampir setengah tahun menggantikan GSXR150.

Performa

PCX 150 yang kemudian kita sebut PCX aja, ini anak baru. Sebelumnya PCX ini orang asing yang mencari peruntungan di negeri ini. Lahir di Thailand, diboyong ke sini dan dihargai jauh lebih mahal dari kompetitor lokal yang lahir belakangan (dari PCX 150 Thailand).

Model sebelumnya impor dari negara tetangga, mengusung mesin hampir 153 cc punya letupan power 10kw. Untuk NMAX tentunya sudah pas. Performa tidak terlalu jauh, hanya selisih 1 KW, tinggal di poles sana sini agar tampilan lebih apik. Menurut saya malah mesin yang dulu dengan tampilan dan fitur tambahan seperti sekarang bisa jadi pukulan cukup dalam untuk NMAX. Sayangnya, mesin yang selisih lebih rendah 1 KW itu tidak digunakan untuk PCX versi lokal ini. Honda membekali PCX150 dengan mesin dengan kubikasi 149,31 cc. Kubikasi lebih rendah, diperkirakan muntahan power juga lebih rendah.

Karena kubikasinya mirip dengan Honda Vario 150, disinyalir mesinya sama, dengan demikian muntahan powernya diperkirakan sama. Artinya mesin yang sudah underpower ini akan mengusung body yang lebih berat lagi. Yang artinya juga, baik akselerasi, kecepatan maksimal atau tepatnya performa secara keseluruhan akan dibawah NMAX. Untuk dalam kota, mungkin yang penting nyaman. Tapi kalau tiba-tiba harus perjalanan ke luar kota, ini yang jadi masalah. Top speed entah dapet berapa, akselerasi juga entah dapet berapa.

Tapi… masih ada harapan kalau honda menggunakan kubikasi yang sama tapi mesin yang berbeda. Misalnya, bisa saja ada perbedaan 1/2 kw antara Vario 150 dan PCX 150. Saya berharap sih lebih dari itu, karena NMAX dan Aerox ini ada di kisaran 11KW.

Fitur

Selain performa mesin, menurut saya (karena katanya desain ini tergantung masing-masing), PCX menang cukup banyak. Dari sisi desain, PCX terlihat lebih well-designed dibanding NMAX. Potongan antara body dan bagian lengan ayun yang ditempeli filter udara dan mekanisme CVT seperti tidak terputus dari desain. Perpotongan antara suspensi, filter udara, dan lengan ayun seperti dipikirkan matang-matang agar bentuknya tidak terlalu melebar dan menyatu dengan desain awalnya. Buat saya desain PCX ini sudah yang terbaik untuk skuter 150cc.

gambar dari monkeymotoblog.com

Dibekali lampu LED di seluruh badanya, PCX juga menyampaikan superioritasnya dibanding NMAX dan Aerox. Enggak terlalu penting sih bagian LED ini, tapi kalo pake fitur mesin mati waktu idle dan jalan lagi waktu di gas, tentunya waktu matinya bisa lebih lama dibandingkan yang pake bohlam.

Nah, masuk ke fitur idle mati sendiri, kalo di Yamaha disebut sebagai ‘Smart Stop System’ atau SSS, sementara di Honda di sebut ‘Idling Stop System’ atau ISS, cuma Aerox dan PCX yang punya. Harusnya sih upgrade NMAX kemarin nambahin SSS ini, biar bisa head to head lawan PCX. Power lebih besar, lebih irit pake SSS, paling enggak beberapa orang seperti saya akan berfikir beberapa kali lagi sebelum benar-benar menentukan pilihan.

Gambar dari situs Yamaha, Aerox 155

Fitur key less ignition buat saya sangat membantu, terutama karena saya udah pernah pakai GSXR150 yang juga pakai fitur yang sama. Enggak takut kunci ketinggalan di motor, enggak repot cari kunci dulu, yang penting udah di kantong atau di tas, langsung cau. Pokoknya fitur keyless ini cukup krusial buat saya.

Tangki bahan bakar, tentunya PCX menang telak dengan 2 liter lebih banyak dari NMAX. Dengan ISS dan efisiensi lebih tinggi, tentunya 2 liter ini cukup signifikan. Sementara Aerox yang paling buncit, tidak lebih besar dari tangki bahan bakar Honda Vario. T_T

Nmax baru dengan tabung suspensi.

Kesimpulan

Sampai saat ini saya belum bisa menyimpulkan mau pilih yang mana. Yang saya perhatikan dalam memilih diantaranya adalah model, jarak jelajah, performa, dan keyless. PCX memiliki nilai tertinggi dengan mengorbankan performa. Sementara NMAX punya performa tertinggi dengan jarak jelajah yang lumayan dan model juga tidak terlalu buruk, tapi tidak memiliki keyless. Sementara Aerox punya performa bagus dan dibekali keyless, tapi saya tidak suka dengan model dan jarak jelajahnya yang relatif lebih pendek.

Ditambah lagi, PCX ini seperti beli kucing dalam karung. Belum ada yang bisa buat nyicipi, belum ada bendanya, tapi udah bisa pesen. Kita enggak akan tau bentuknya selain dari internet, tidak tahu rasa mengendarainya sebelum beli, bahkan cara mengoperasikan fiturnya aja ga tau. Harusnya kalo udah punya model purwarupa mbok yo dicicipi dulu sama blogger kondang. Paling enggak mereka punya gambaran rasa mengendarainya kaya apa, dan dari situ bisa jadi pertimbangan buat beli.

Artikel belum terbit, tapi udah sempet ke delaer tadi. Tanya gimana cara inden-nya, salesnya bilang cuma ada warna putih. WHAT!?? Terus puluhan ribu atau ratusan ribu orang yang mau pesen bakalan dapetnya putih semua???? Harus tanya ke Astra nih. Email ke CS Astra Honda dulu deh.

 

Share This:

2 tanggapan pada “NMAX, PCX atau Aerox?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *