Hybrid Dulu Elektrik Kemudian

Di Indonesia ini ada orang-orang yang takut motor elektrik, seperti mbah saya takut pake kompor gas. Kalo emabah saya malah lebih pinter, takut meledak katanya, ya karena dulu sering lihat tabung gas meledak di TV. Tapi kalo yang takut elektrik ini, enggak tau deh kenapa. Saya sih juga masih takut kalo infrastruktur enggak mendukung, tapi kalo infrastruktur oke, langsung konversi ke kendaraan listrik kok. Nah, karena itu, ada baiknya kita ke teknologi hybrid dulu, kan pajaknya udah disederhanakan tuh untuk kendaraan dengan dua mesin.

Klo mobil udah banyak, ya? Kalo motor? Nah, saya mau bahas motor hybrid ya. Kalo motor sport hybrid kayaknya susah ya, akan lebih rumit pengendalianya, tapi kalo transmisi CVT+electric motor? Nah, ini baru rasa-rasanya lebih simpel.

Teknologi hybrid yang mudah dikendalikan ini sih intinya menyerahkan semua pengaturan terutama perpaduan penggunaan mesin listrik saja, mesin bensin saja atau keduanya pada komputer. Jadi pengendara tinggal memilih mode-nya, komputer yang nanti menjalankan, menyesuaikan dengan putaran tuas gas. Nah, kira-kira seperti apa sih konsepnya kalo ada motor hybrid dengan transmisi CVT ini? Saya mau coba bahas di sini.

Komputerisasi

Apa saja yang nanti dikendalikan komputer? Ya hampir semuanya. Perlu sebuah komputer yang memadai dan perangkat lunak yang baik atau kalau perlu selalu di update agar kualitas berkendaraan membaik. Komputer akan mengendalikan bukaan throttle valve, kopling (clutch) ganda, dan mesin listrik. Dia yang menentukan seberapa besar bukaan throtle, besarnya power mesin, dan mana mesin yang dipakai, apakah mesin listrik saja, mesin IC atau keduanya. Mekanisme regenerative breaking juga dikendalikan komputer, sehingga tidak membahayakan pengendara karena terlalu berlebihan dalam melakukan regenerative breaking.

Skuter listrik seperti ini lebih baik kalau baterainya dapat diisi kembali di rumah, jadi kelasnya sudah hybrid tertinggi, yaitu plugin hybrid. Dengan begitu komputer dapat memerintahkan untuk menghabiskan baterai saja (kalau jarak tempuh pendek) atau dapat memadukanya. Kalo dipake buat muter-muter komplek atau bolak-balik ke minimarket kan jadi enggak perlu isi BBM. Hanya perlu charge.

Kekuatan motor, bukan kapasitas mesin

Apa untuk 10kw sekuter harus pakai mesin 150cc? ya tidak lah. Bisa pakai mesin 125cc dengan power 8kw dan mesin listrik 3kw, jumlahnya sudah 11kw kalo dipadukan. Pada kondisi baterai penuh, seluruh power ini bisa langsung disalurkan ke roda bersama-sama, toh itu hanya digunakan saat akselerasi, kan? Misalnya, ketika akselerasi, tentunya kita menggunakan seluruh tenaga mesin, dan dibantu mesin listrik 3kw. Ketika kecepatan sudah 100 km/jam dan mempertahankan kecepatan, mesin bensinya cukup untuk mempertahankan kecepatan, sementara mesin listriknya bisa mengisi daya baterai dengan kekuatan minimum, misalnya hanya 0,2kw saja untuk mempertahankan daya baterai (daya tidak bertambah, tapi menggantikan yang digunakan panel instrumen, lampu, komputer dll), sehingga tidak menghambat kinerja mesin bensin.

Total kekuatan motor bisa mencapai 11kw atau sekitar 14,9 dk, dan saya pikir akan lebih irit daripada menggunakan katup variabel. Lebih ramah lingkungan tentunya, dan bisa menggunakan full electri tanpa menggunakan bahan bakar. Bahan bakar hanya digunakan waktu daya baterai sudah mencapai batas minimum yang bisa digunakan.

Mesin-mesin itu bekerja sama

Tanpa sumber daya listrik dari luar, mesin ini tentunya tetap bisa bekerja dengan baik. Powernya mungkin tidak akan sama antara ketika baterai penuh dan ketika baterai pada batas minimum pemakaian. Ketika baterai penuh, motor akan berakselerasi dengan perpaduan torsi mesin listrik dan mesin bensin, dan power maksimalnya adalah perpaduan antara keduanya. Tapi saat baterai minimum, hanya mesin bensin yang akan digunakan. Mesin listrik akan menjadi generator saat pengendara melakukan pengereman, dan menyimpan energi pengeeramanya di baterai. Nantinya jika dirasa cukup, mesin listrik akan kembali membantu mesin bensin dan mendapatkan performa maksimal kembali. Power mesin listrik yang digunakan juga dapat disesuaikan dengan daya baterai, jadi mesin listrik akan tetap membantu mesin bensin saat akeselarasi, namun tidak maksimal, misalnya hanya 1kw saja atau hanya 0,5kw saat baterai kritis.

Power besar itu juga tidak selalu digunakan kok, hanya ketika akselerasi saja. Misalnya, jika akeselarsi dilakukan selama beberapa detik sampai kecepatan 100km/jam, maka hanya saat itu mesin listrik akan membantu mesin bensin. Saat sudah dicapai dan pengendara tidak meningkatkan kecepatanya, mesin listrik akan berhenti menyalurkan energi 3kw itu. Mesin listrik justru akan dirubah menjadi generator yang memproduksi daya sangat kecil, mungkin antara 0,1-0,3 kw untuk mendukung penggunaan listrik lampu-lampu, panel, display, dan elektronik lainya. Saat melakukan pengereman, tentunya generator akan dimaksimalkan, mungkin dapat mengisi antara 1-1,6kw saat mengurangi kecepatan.

Pada kondisi penggunaan power besar, tentunya konsumsi bahan bakar juga cukup besar. Tapi bisa juga dibuat lebih efisien. Caranya, dengan hanya menggunakan mesin listrik saat kendaraan pada kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat, misalnya antara 0-30km/jam, mesin bensin akan membuang banyak bahan bakar yang dikonversikan dari power ke torsi. Dengan mesin listrik yang sejak awal sudah bertorsi besar, bahan bakar bisa di hemat.

Contoh kasusnya, setelah perjalanan panjang akhirnya terkena macet. Ketika menuju macet motor akan melambat, daya perlambatanya tentunya akan mengisi baterai. Ketika motor berhenti, mesin bensin juga akan berhenti. Nah, motor hanya akan menggunakan mesin listrik saja ketika stop and go saat baterai penuh. Mesin bensin tidak menyala sampa batas minimum. Ketika masuk batas minimum, mesin listrik tidak akan lagi memutar roda motor secara mandiri, tapi hanya sebagai starter (sekarang akan berfungsi seperti motor yang ‘start-stop’ otomatis).

Kopling Ganda

Saya menyebutkan kopling ganda di atas, maksudnya adalah dua jenis kopling yang akan dikendalikan komputer. Kopling pertama ada diantara mesin listrik dan mesin bensin. sementara yang kedua antara mesin listrik dan transmisi CVT menggantikan kopling sentrifugal, atau mekanisme kopling lain. Ketika menggunakan mode elektrik penuh, yang akan terhubung hanya motor listrik dengan transmisi CVT, sementara motor listrik dengan mesin terputus dan mesin dalam keadaan mati. Ketika membutuhkan daya lebih, kopling akan menghubungkan kedua motor tersebut. Ketika baterai dalam keadaan kritis, mesin akan terhubung ke motor listrik, tapi tidak terhubung ke transmisi CVT, menjadikanya generator pada saat keadaan darurat (misalnya berhenti sangat lama sampai baterainya di bawah daya minimum.

*Daya minimum, daya kritis

Karena sifatnya, baterai lithium dapat mengalami over-discharge dan mengakibatkan kerusakan. Ini juga tergantung dengan bahan yang digunakan untuk membuat baterai. Daya minimum artinya daya paling rendah yang dapat digunakan. Di bawah daya minimum artinya masih diperbolehkan dan belum akan merusak baterai, hanya saja komputer sudah mulai memberi peringatan. Ketika masuk daya kritis, motor harus menginisiasi pengisian menggunakan mesin bensin, karena di bawah daya kritis dapat merusak baterai.

 

 

Share This:

2 tanggapan pada “Hybrid Dulu Elektrik Kemudian

  • Sangat menarik artikelnya dan bermanfaat, saya membayangkan motornya masuk kategori maxi scooter, full digital panel, yang menjadi pertanyaan apakah memungkinkan motor hybird ini tanpa opsi charging, power listrik dihasilkan hanya dari regenerative breaking saja?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *